TintaOtentik.Co – Di tengah eskalasi ketidakpastian situasi global yang kian menantang, Kepala Negara memaparkan langkah taktis pemerintah dalam mengamankan keuangan negara melalui penghematan kas yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Langkah penyelamatan anggaran ini diambil lantaran dinamika politik dunia saat ini masih diwarnai oleh konflik antaranegara serta ketegangan geopolitik yang memicu guncangan hebat di berbagai sektor krusial.
Pernyataan strategis tersebut dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk jawaban langsung atas ulasan kritis media asing ternama, The Economist, dalam artikel berjudul “Archipelagoing fast” yang rilis pada 16 Mei lalu dan sempat memicu perbincangan hangat di jagat media sosial.
Presiden Prabowo mengonfirmasi bahwa posisi Indonesia saat ini memang tidak luput dari imbas merosotnya stabilitas keamanan dan ekonomi di tingkat internasional.
“Indonesia saat ini berada dalam lingkungan global yang sulit dan penuh ketidakpastian. Perang dan ketegangan geopolitik telah meningkatkan volatilitas di pasar energi, pangan, dan keuangan dunia,” kata Prabowo dikutip dari The Economist pada Senin (15/6).
Pertumbuhan Ekonomi Positif dan Disiplin Fiskal yang Sehat
Kendati harus menakhodai negara di tengah badai krisis global, Mantan Danjen Kopassus tersebut menegaskan bahwa indikator makroekonomi tanah air justru memperlihatkan daya lentur dan ketahanan yang sangat impresif.
Terbukti, pada catatan performa finansial Kuartal I/2026, Indonesia sukses bertengger di posisi kedua sebagai negara dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara jajaran anggota G20.
Lebih lanjut, ia menjamin bahwa postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam kondisi yang sangat aman dan terkendali jika dikomparasikan dengan negara-negara besar lainnya di dunia.
“Defisit anggaran kami tetap di bawah 3 persen terhadap PDB, sedangkan rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju,” ujar Prabowo.
Pangkas Belanja Mubazir Demi Jaga Kesehatan APBN
Demi memastikan benteng pertahanan fiskal tersebut tidak jebol, pihak eksekutif menerapkan kebijakan pengetatan ikat pinggang melalui reformasi birokrasi, penegakan disiplin anggaran yang ketat, serta penguatan integritas di tubuh kementerian dan lembaga terkait.
Secara blak-blakan, Kepala Negara mengungkapkan bahwa manajemen pemerintahan saat ini telah bergerak agresif dalam melikuidasi berbagai pos anggaran belanja yang dinilai tidak produktif serta sarat pemborosan dengan nilai yang sangat fantastis.
“Kami memangkas belanja yang tidak efisien lebih dari Rp300 triliun,” ujar Prabowo.
Selain melakukan pembersihan terhadap pengeluaran yang mubazir, restrukturisasi tata kelola keuangan negara juga digenjot melalui transformasi digital secara masif di sektor perpajakan.
Langkah ini diimbangi dengan pembenahan sistem regulasi ekspor, operasi senyap pemberantasan penyelundupan komoditas, serta komitmen kuat untuk menahan laju defisit anggaran agar tetap berada di bawah ambang batas aman hukum positif, terlepas dari apa pun gejolak ekonomi yang tengah melanda dunia.
Laporan: Tim
