Tinta Otentik.co – Langkah nyata dalam menanamkan kesadaran ekologis pada generasi muda terus dimaksimalkan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel).
Bertempat di Gedung Galeri Koperasi dan UMKM Kota Tangsel, Serpong, pada Rabu (7/10), sebanyak 75 Sekolah Dasar (SD) negeri dan swasta secara resmi menandatangani komitmen bersama untuk merealisasikan Program Adiwiyata.
Langkah strategis ini menandai dimulainya ekspansi gerakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan hidup di wilayah Tangsel secara masif dan terstruktur.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menegaskan bahwa esensi utama dari Sekolah Adiwiyata bukanlah sekadar menjaga kebersihan fisik atau mengejar piala penghargaan seremonial.
Lebih jauh, program ini diproyeksikan sebagai instrumen pembentuk karakter warga sekolah secara menyeluruh.
“Ya, sekolah Adiwiyata itu merupakan sekolah yang sudah menerapkan program pelestarian lingkungan di sekolahnya masing-masing, di unit-unit sekolahnya masing-masing. Mengajak para guru, para staf, dan juga para pelajar, siswa-siswi, untuk sama-sama melakukan pelestarian lingkungan seperti misalkan penanaman pohon, ya, lalu juga pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan non-organik,” ujar Pilar.
Pilar menambahkan, edukasi lingkungan dapat disisipkan lewat aktivitas aplikatif seperti bercocok tanam, budidaya perikanan, hingga peternakan skala mikro yang bertautan langsung dengan ketahanan pangan.
Beliau mengapresiasi beberapa sekolah di Tangsel yang telah berhasil menjadi percontohan di tingkat nasional, sekaligus mendorong 75 SD yang baru bergabung agar konsisten menjalankan komitmen ini.
“Tahun ini ada 75 sekolah dasar yang akan bergabung untuk melakukan komitmen bersama-sama supaya bisa menerapkan program Adiwiyata ini di sekolahnya, mulai dari siswa-siswi, para staf, dan juga para guru. Semuanya harus sama-sama berkomitmen dan konsisten menjaga program ini supaya berjalan,” katanya.
Dalam pandangannya, internalisasi nilai mencintai alam harus dimulai sejak jenjang pendidikan paling dasar agar kebiasaan memilah dan membuang sampah pada tempatnya tertanam kuat hingga dewasa.
“Ya, jadi kebiasaan mencintai lingkungan hidup ya, menjaga alam dan seisinya itu harus disosialisasikan, harus diajarkan, diterapkan dari mulai usia-usia dini, baik itu tingkat PAUD, SD, dan juga SMP,” tuturnya.
Pilar menilai sekolah memegang peranan krusial sebagai laboratorium perilaku, di mana kebiasaan positif anak diharapkan mampu menular hingga ke lingkungan keluarga.
“Nah, untuk mengedukasi itu, kita selain orang tua yang kita edukasi, tentu yang paling tepat itu adalah mengedukasi anak-anaknya supaya membiasakan itu sejak usia dini, bahwa sampahmu adalah tanggung jawabmu,” ujarnya.
Menariknya, Pilar mengimbau agar pelaksanaan Adiwiyata tidak menjadi beban finansial bagi sekolah. Kreativitas mengolah barang bekas, seperti pipa tak terpakai untuk instalasi hidroponik hingga kawat wiremesh untuk taman gantung, menjadi kunci utama pendorong partisipasi aktif siswa.
“Sebetulnya tidak menggunakan biaya besar. Itu pintar-pintar daripada sekolah, iya kreativitas sekolahnya dan mengajak kebersamaan anak-anaknya,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Bani Khosyatullah, menggarisbawahi pentingnya sinergitas lintas sektor demi menjamin keberlanjutan program ini.
“Yang kami sangat berharap kolaborasi, kemudian mobilisasi dalam rangka pelaksanaan program tersebut. Karena harapan terhadap program Adiwiyata ini tidak mungkin hanya dari tingkat nasional, provinsi, kemudian kembali ke kota,” ujarnya.
Menyambung hal tersebut, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Tangsel, Doni Herawan, membeberkan bahwa penandatanganan komitmen ini merupakan tahap awal dari target besar pembentukan 150 Sekolah Adiwiyata baru, yang terdiri dari 75 SD dan 75 SMP.
“Jadi target kita 150, hari ini 75 untuk SD, besoknya 75 lagi untuk SMP. Target kita semua yang ikut sekarang ini bisa masuk ke program Adiwiyata,” kata Doni.
Ia menjelaskan bahwa Adiwiyata merupakan program nasional bentukan Kementerian Lingkungan Hidup guna membangun gerakan peduli lingkungan di satuan pendidikan.
“Program Adiwiyata itu program nasional, Kementerian Lingkungan Hidup. Itu lebih ke gerakan budaya peduli di sekolah. Jadi harapannya para siswa di sekolah itu bisa nanti meneruskan di rumahnya masing-masing untuk lebih peduli lingkungan, olahan sampahnya, kemudian penggunaan tidak menggunakan sampah plastik, kemudian dukung hijauan dan lain-lain,” jelasnya.
Guna memastikan sekolah tak kewalahan menghadapi proses verifikasi teknis dan kelengkapan administrasi yang panjang, DLH Tangsel bersama Forum Adiwiyata berkomitmen memberikan pendampingan langsung secara berkala.
“Prosesnya memang agak panjang. Administrasi, ada penyelesaian administrasi, kemudian komitmen kepala sekolah, kemudian juga apa yang sudah dilakukan sekolah, bahkan banyak poin-poin kriterianya,” ungkap Doni.
Menutup keterangannya, Doni menegaskan pentingnya keterlibatan Dinas Pendidikan serta dukungan insan pers untuk mengawal edukasi publik ini agar dampak dari budaya lingkungan hidup betul-betul meresap hingga ke tiap rumah tangga.
“Harapan kami kalau sudah Dinas Pendidikan masuk, itu bisa berkolaborasi ya dengan kami, bagaimana program ini bisa berjalan, sehingga semua target sekolah di Tangerang Selatan bisa ikut programnya,” ujarnya.
Ia mengakhiri, “Jadi intinya, kita juga perlu dukungan dari teman-teman jurnalis, teman-teman wartawan. Untuk mempublikasi secara positif ya, program ini bagus untuk usia dini. Karena kalau nggak dibantu sama anak-anak kita, adik-adik kita di sekolah, agak sulit. Bagaimana mengelola lingkungan itu bisa diterapkan di rumah. Di sekolah langsung diterapkan di rumah juga.
