Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin, Jauh dari Kebangsaan!

0

TintaOtentik.Co – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masih belum terwujudnya keadilan dan kemakmuran di Indonesia meski negara telah memasuki usia 80 tahun kemerdekaan.

“Delapan puluh tahun kita merdeka, keadilan dan kemakmurannya belum terwujud,” kata Dedi dikutip dari tayangan Humas IPDN.

Menurut Dedi, persoalan tersebut berakar pada tata kelola pemerintahan yang lebih mengutamakan kepuasan administrasi dibandingkan kepuasan masyarakat.

Dedi mengkritik pola pikir birokrasi yang dinilainya lebih banyak membahas tunjangan kinerja (tukin) dibandingkan cita-cita besar untuk memajukan bangsa.

“Hampir tidak ada idealisme tentang cita-cita besar. Yang dibicarakan dalam diskusi bukan bagaimana membangun bangsa ke depan, tetapi soal tukin,” ujarnya.

Menurutnya, orientasi yang berlebihan terhadap tunjangan kinerja telah memicu degradasi birokrasi.

KDM ingin IPDN ke depan bukan hanya pusat akademis di dalam pagar, melainkan menjadi motor penggerak perbaikan lingkungan di luar pagar kampus. Misalnya, dalam mengatasi masalah ketertiban, kebersihan sampah, hingga keselamatan lalu lintas khususnya wilayah aglomerasi Jatinangor.

“Sudah semestinya mahasiswa IPDN menjadi pemandu RT yang ada di sini, RW yang ada di sini, kepala desa yang ada di sini. Kenapa tidak? Sehingga ketika nanti IPDN itu praktik, mereka langsung berada di wilayah nyata,” ucapnya.

KDM optimistis dengan melibatkan para praja menjadi pemandu tata kelola pemerintahan dari tingkat yang paling mendasar, maka akan mewujudkan perubahan ekosistem lingkungan yang lebih baik.

“Di depan sana ada orang yang yang dibunuh, di sebelah sana ada sepeda motor yang dicuri, di sebelah sini ada sepeda motor yang dirampok. Di sebelah sini ada demonstrasi yang melahirkan korban jiwa. Maka praktik yang sebenarnya adalah dalam lingkungan. Ini penting,” katanya.

Jika itu dilakukan, maka di lingkungan sekitar IPDN tidak akan ada lagi kasus pencurian, perampokan, atau pembunuhan. Bahkan, dapat mewujudkan zero accident lalu lintas yang sempat terjadi di depan area kampus IPDN. “Termasuk tidak ada sampah berserakan karena IPDN mempelopori kebersihan di lingkungannya,” ucapnya.

Menurut KDM, karakter pemimpin yang solutif dan inovatif justru lahir ketika para siswa didik terbiasa dihadapkan pada kesulitan dan dinamika masyarakat yang sebenarnya.

Sebab, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah menjembatani teori di atas kertas dengan substansi di lapangan.

KDM menilai, bilamana kolaborasi antara kampus kedinasan dan lingkungan sekitar ini berjalan optimal, Jatinangor bisa menjelma menjadi kawasan percontohan yang ideal.

“Tidak ada orang yang pintar hanya di sekolah. Tidak boleh juga orang hanya bangga dengan sekolahnya. Sekolah terbesar itu adalah semesta,” kata dia.

Lebih lanjut, KDM juga mengingatkan pentingnya semangat primordialisme yang positif dalam arti menjaga kebanggaan identitas bangsa di tengah dunia global.

Dia mencontohkan sejumlah negara, seperti Cina dan Amerika yang mendahulukan kepentingan bangsa mereka.

Menurut dia, dengan banyaknya suku di Indonesia justru memiliki kesatuan emosi dan energi yang kuat. Namun, dari seluruh perspektif yang ada tersebut harus menomorsatukan konsistensi dan mengubur keangkuhan.

“Setiap perspektif negara pasti memiliki romantisme masa lalu dan menjadikan masa lalu menjadi spirit. Membangun energi, membangun masa depan,” katanya.

Laporan: bagas

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version