Intip Tren Kasus DBD di Tangsel: Dari Tahun 2022 Sampai Juni 2026

0

TintaOtentik.Co — Grafik fluktuasi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tangerang Selatan kembali menegaskan pola lama yang belum sepenuhnya bisa ditundukkan, sebuah siklus musiman yang intim dengan datangnya musim penghujan, namun menyimpan bom waktu jika lengah dimitigasi.

Berdasarkan data program penanggulangan DBD Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan terbaru per 21 Juni 2026, akumulasi kasus di paruh pertama tahun ini tercatat berada di angka 229 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel dr. Allin Hendalin mengatakan kendati angka ini menunjukkan tren yang jauh lebih terkendali dibandingkan ledakan masif pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, dinamika epidemiologi di lapangan tetap menuntut kewaspadaan penuh, terutama pada kelompok usia produktif.

“Melihat rekam jejak historis empat tahun terakhir, grafik DBD Tangsel layaknya roller coaster yang sulit ditebak secara linear. Pada tahun 2022, kota ini dihantam oleh 756 kasus, sebelum akhirnya berhasil ditekan hampir separuhnya menjadi 420 kasus pada 2023,” ungkap Allin.

Namun, lanjut Allin, optimisme itu runtuh ketika memasuki tahun 2024. Gelombang ekstrem kembali datang dengan total akumulasi melonjak ke angka 754 kasus, hampir menyamai rekor terburuk 2022.

“Tahun 2024 mencatatkan anomali mengkhawatirkan pada bulan Maret dengan rekor tertinggi mencapai 167 kasus hanya dalam waktu satu bulan. Pola ini bergeser sedikit melandai di tahun 2025 dengan total 648 kasus sepanjang tahun,” terang Allin.

Allin menyampaikan bagaimana dengan tahun 2026? Sejauh ini, garis hitam pada grafik menunjukkan pergerakan yang landai di awal tahun: 35 kasus di Januari, 38 di Februari, dan 40 di Maret. Sempat terjadi riak kenaikan di bulan Mei dengan 57 kasus, angka tersebut kembali melunak ke 27 kasus per pertengahan Juni.

Kelompok Usia Produktif Jadi Sasaran Utama

Satu hal yang paling tajam dari pembacaan data demografi 2026 adalah pergeseran persepsi publik.

“Jika selama ini DBD diidentikkan sebagai penyakit yang paling mengancam balita, data obyektif justru menunjukkan hal sebaliknya. Dari total 229 pasien di tahun ini, kelompok usia produktif dan remaja mendominasi secara mutlak,” sebut Allin.

Allin jelaskan kelompok usia 15 hingga 44 tahun berada di urutan pertama dengan kontribusi 119 kasus, disusul oleh kelompok usia sekolah (5–14 tahun) sebanyak 67 kasus. Sementara itu, kelompok usia di atas 44 tahun mencatat 33 kasus, balita (1–4 tahun) 10 kasus, dan bayi di bawah satu tahun bersih dari kasus (0 kasus).

“Secara segmentasi jender, kaum laki-laki tercatat sedikit lebih rentan dengan 128 kasus dibandingkan perempuan yang berada di angka 101 kasus,” papar Allin.

Dominasi kasus pada usia 15–44 tahun ini mengindikasikan bahwa risiko penularan tidak lagi berpusat di lingkungan domestik (rumah tinggal) pada siang hari, melainkan telah meluas ke area publik, institusi pendidikan, hingga tempat kerja.

Catatan Kritis: Antisipasi Siklus Paruh Kedua

Allin ucapkan meskipun grafik berjalan melandai di angka 27 kasus pada Juni 2026, penurunan ini tidak boleh dibaca sebagai akhir dari ancaman.

“Secara historis, wilayah Tangerang Selatan memiliki karakteristik cuaca yang kerap memicu genangan air tak terduga akibat hujan lokal,” tutur Allin.

Ia menambahkan penurunan angka di pertengahan tahun ini merupakan momentum krusial bagi Dinas Kesehatan, kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik), serta masyarakat luas untuk memperketat gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.

Menjaga grafik tetap berada di garis bawah hingga akhir Desember adalah tantangan nyata.

“Keberhasilan menekan angka di bawah 300 kasus hingga akhir tahun akan menjadi pencapaian terbaik Tangsel dalam lima tahun terakhir, sekaligus memutus rantai siklus tahunan yang selama ini menghantui warga kota,” pungkas Allin.

Laporan: iwan

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version