Tinta Otentik.co — Eksekutif Kota Tangerang Selatan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar diskusi publik bertajuk “Tangerang Selatan: Cerdas, Modern, Religius. Antara Motto & Realitas”.
Forum ini dihadirkan sebagai ruang refleksi kritis untuk menguji sejauh mana slogan adiluhung Kota Tangsel benar-benar membumi dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari warganya.
Diskusi yang mempertemukan elemen mahasiswa, organisasi pemuda, hingga organisasi masyarakat ini membedah berbagai isu krusial daerah, mulai dari keadilan akses pendidikan, kualitas pelayanan publik, pengolahan sampah dan lingkungan, hingga ruang partisipasi generasi muda dalam pengawalan kebijakan.
Ketua LMND Tangerang Selatan, Melky Nam, menegaskan bahwa motto sebuah daerah tidak boleh berhenti sekadar sebagai aksesoris administratif atau jargon pembangunan tanpa substansi di lapangan.
“Motto sebuah daerah tidak cukup hanya menjadi slogan. Kita perlu melihat bagaimana realitas masyarakat hari ini. Apakah nilai-nilai cerdas, modern dan religius benar-benar hadir dan dirasakan dalam kehidupan warga, atau masih sebatas narasi yang kita dengar dalam berbagai momentum,” ujar Melky dalam keterangannya.
Dalam paparannya, Melky merincikan bahwa indikator “Cerdas” tak layak dinilai hanya dari megahnya fisik bangunan sekolah, melainkan dari pemerataan akses pendidikan dan terbukanya kebebasan berpikir kritis warganya.
Sementara nilai “Modern” wajib diuji lewat keterbukaan informasi, efektivitas penanganan sampah, serta sistem transportasi publik yang inklusif.
“Kalau kita bicara kota yang cerdas, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak sekolah atau fasilitas yang dibangun, tetapi apakah masyarakat benar-benar mendapatkan pendidikan yang layak. Kalau kita bicara kota modern, bukan hanya soal gedung dan teknologi, tetapi bagaimana pelayanan publik dan tata kelolanya. Dan kalau kita bicara religius, tentu harus tercermin dalam perilaku sosial, keadilan, toleransi dan kepedulian terhadap sesama,” tegas Melky.
Melky menambahkan, gelombang kritik dari pemuda dan mahasiswa tidak sepantasnya dinilai sebagai bentuk penolakan terhadap capaian pembangunan pemerintah daerah. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari kontrol sosial agar arah kebijakan tidak melenceng dari pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.
“Bagi kami, kritik bukan berarti menolak pembangunan. Justru kritik adalah bagian dari upaya memastikan pembangunan berjalan pada jalurnya.
Kami ingin melihat Tangsel bukan hanya sebagai kota yang memiliki slogan yang baik, tetapi sebagai kota yang nilai-nilai dalam slogannya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.
Mendorong Partisipasi Publik dan Komitmen Pengawalan
Diskusi publik ini turut menghadirkan jajaran narasumber dari kepemudaan lintas elemen, di antaranya Ketua Pemuda Katolik Banten Ignatius Arie Tetahelu, Ketua LMND Wilayah Banten Ripan Ardiana, serta Wasekjen KNPI Tangsel Iwan Pose, dengan dipandu oleh Wili Alvin selaku moderator.
LMND Tangsel berkomitmen untuk menindaklanjuti poin-poin krusial hasil diskusi ini ke dalam bentuk kajian mendalam, audiensi publik, hingga rekomendasi strategis bagi para pemangku kebijakan Pemkot Tangsel.
“Pembangunan kota tidak boleh hanya dibicarakan dari ruang-ruang pemerintahan. Masyarakat juga harus mempunyai ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pandangannya. Karena yang merasakan langsung dampak dari kebijakan pembangunan adalah masyarakat itu sendiri,” tutur Melky.
“Harapan kami, diskusi ini menjadi awal dari pembicaraan yang lebih panjang. Tangsel harus terus kita baca, kita kritisi dan kita kawal bersama. Karena kota ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh masyarakat yang hidup dan tumbuh di dalamnya,” pungkas Melky.
