MBG Jadi Kunci Pasar Impor? Negara Eksportir dan Para Trader Pangan Bakal Kelimpungan!

0

TintaOtentik.Co – Pendiri Astronacci International yang juga dikenal sebagai praktisi pasar modal dan kreator konten ekonomi, Prof. Gema Goeyardi, melontarkan pandangan terkait dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Dalam analisisnya, ia tidak cuma fokus kepada plus-minus program tersebut secara domestik, melainkan membongkar pihak-pihak asing yang dirugikan akibat kebijakan ini.

“MBG, Saya sudah membuat konten tentang MBG banyak, kalian bisa lihat, tonton dan perhatikan di channel sosmed saya termasuk youtube saya Astronacci,” ujar Prof. Gema dalam salah satu Konten Video dirinya.

Menurutnya, implementasi MBG yang mewajibkan penggunaan produk lokal secara otomatis akan memukul negara eksportir dan para trader pangan yang selama ini menggantungkan pasar pada Indonesia.

“Saya tidak akan bahas plus minusnya, saya akan langsung bahas siapakah yang dirugikan dari Program MBG? Satu, Australia, karena mengurangi ekspor apa saja? Ada sapi, susu, dairy product, terus kemudian trader pangan juga berdampak,” tegasnya.

Ia memaparkan bahwa penyempitan celah impor akan menekan masuknya produk asing dan justru meningkatkan leverage produk lokal, meski ia tak menampik bahwa tata kelola di tingkat bawah masih perlu perbaikan.

“Apalagi nantinya di sentralisasi di Kopdes misalnya, selama ini memang tata kelolanya masih hancur-hancuran, tetapi yang kalian harus tahu, bahwa kepentingan asing terusik jelas dengan adanya MBG karena impor itu terkena dampaknya,” bebernya.

“Yang kita tahu MBG harus menggunakan produk lokal, impor diketatkan, pasar daripada Republik Indonesia menyempit, karena ditaruh dikunci di satu pintu yakni program MBG, produk lokal naik dan leverage asingnya turun,” tambahnya.

Kondisi ini, lanjutnya, terlihat dari pergeseran drastis pasar ekspor sapi Australia. Berdasarkan data yang ia paparkan, sekitar 72% sapi hidup Australia yang awalnya ditujukan ke Indonesia kini harus dialihkan ke negara lain akibat pengetatan impor.

“Reaksi terdokumentasi, 72% sapi hidup Australia ke RI. Australia pasarnya bergeser dari awalnya Indonesia terpaksa mereka harus geser ke Brazil,” jelasnya.

Bukan hanya Australia, pengetatan impor untuk menyuplai program MBG juga berdampak pada eksportir susu seperti Selandia Baru.

Dampak sistemik ini diklaim membuat negara-negara tersebut mulai mencari celah intervensi melalui organisasi perdagangan internasional.

“New Zealand itu juga problem masalah susu, jadi mereka mencoba untuk mencari jalan kepada WTO dan ASEAN,” pungkasnya.

Laporan: kurnia

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version