Minyak Dunia Tembus US$ 108 per Barel, Bahlil: Berat, Tapi Tetap Tekan Harga BBM Subsidi

0

TintaOtentik.co – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kendati lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan Kamis (10/9/2026) telah menembus angka US$ 108 per barel.

Keputusan ini diambil demi menjaga kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa jajarannya bergerak cepat memantau eskalasi pasar energi global.

Sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, Bahlil terus menjalin komunikasi intensif dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menghitung implikasi fiskal terhadap anggaran negara.

“Saya selalu berkoordinasi terus dengan menteri keuangan atas arahan Bapak Presiden Prabowo, selalu melakukan dan mengikuti secara saksama terhadap berbagai dinamika perkembangan global. Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” tegas Bahlil saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Bahlil tak menampik bahwa kebijakan mempertahankan tarif BBM bersubsidi di tengah gejolak pasar global menaruh beban keuangan yang amat berat bagi APBN, seiring dengan membengkaknya alokasi subsidi.

Namun, Presiden Prabowo menginstruksikan agar perlindungan terhadap lapisan masyarakat rentan tetap diutamakan.

“Memang ini adalah sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat. Kenapa? Karena pasti penambahan subsidinya nambah. Tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang sudah kita lakukan,” jelasnya.

Kendati lonjakan harga harian cukup signifikan, Bahlil menilai indikator rerata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) secara akumulatif sejak awal tahun hingga September masih terkendali dan berada di rentang perkiraan fiskal.

“Sekalipun sekarang sudah menjadi 106 sampai 108 dolar per barel, tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar 85 sampai 90. Jadi masih, overall masih oke, ya,” tutup Bahlil​.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version