Nilai Ekspor Pertanian Naik Rp166 Triliun, Amran: Pelemahan Rupiah Peroleh Keuntungan

0

TintaOtentik.Co – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.700 per dolar AS tak sepenuhnya berdampak buruk bagi sektor pertanian dan masyarakat desa.

Menurut dia, penguatan dolar AS justru ikut mendorong kenaikan nilai ekspor komoditas pertanian Indonesia dan meningkatkan pendapatan petani.

Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah terasa pada sejumlah komoditas impor seperti bawang putih dan kedelai yang harganya menjadi lebih mahal.

“Setiap ada krisis atau kondisi apa pun pasti ada plus minus. Sekarang tinggal bagaimana kecerdasan kita memanfaatkan situasi ini,” ujar Amran dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (19/5).

Ia menjelaskan nilai ekspor pertanian Indonesia naik Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, kondisi itu menunjukkan sektor pertanian domestik justru memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah.

“Inilah yang dimaksud Bapak Presiden (Prabowo Subianto) bahwa ada dampaknya, iya. Tetapi dampak positifnya di desa, khususnya petani, jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Amran menyebut peningkatan ekspor terjadi karena petani terdorong meningkatkan produktivitas ketika harga komoditas menguntungkan. Ia mengatakan kondisi tersebut membuat petani lebih serius menjaga tanaman, penggunaan pupuk, hingga pengendalian hama.

“Petani sederhana, karena ini menguntungkan, tanamannya dipupuk dengan baik, dipelihara dengan baik, hamanya dijaga dengan baik, airnya dijaga dengan baik,” katanya.

Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan pernyataan Sang Kepala Negara yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak gejolak dolar AS.

Menurut Amran, ucapan Prabowo perlu dipahami dalam konteks ekonomi makro, terutama karena pemerintah masih menjaga harga BBM subsidi dan pupuk.

“BBM subsidi tidak naik, pupuk turun. Itulah yang dimaksud Bapak Presiden,” ujar Amran.

Meski demikian, Amran mengakui pelemahan rupiah tetap bisa memberi tekanan pada bahan pangan impor seperti kedelai yang menjadi bahan baku tahu dan tempe. Namun, ia menilai dampaknya terhadap konsumsi masyarakat relatif kecil dibanding komoditas lain.

“Ya pasti berpengaruh (pelemahan rupiah ke harga olahan kedelai), tetapi kecil porsinya. Kalau makan itu yang paling besar porsinya apa? Kedelai tempe mungkin 1 persen atau 2 persen,” katanya.

Ia memastikan pemerintah sudah memanggil para importir kedelai agar tidak menaikkan harga secara berlebihan di tengah penguatan dolar AS. Menurut dia, pemerintah siap mencabut izin importir yang mengambil keuntungan tidak wajar.

“Kami sudah beri tahu semua importir, kalau naik semena-mena izinnya saya cabut,” ujar Amran.

Selain itu, Amran menilai gejolak harga pangan dalam negeri juga dipengaruhi praktik mafia pangan. Karena itu, Kementan bersama Satgas Pangan disebut terus melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran distribusi pangan.

Laporan: Tim

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version