TintaOtentik.Co – Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah menjalankan skenario geopolitik berskala besar yang menempatkan kelompok oposisi Kurdi sebagai pion utama dalam tekanan terhadap Teheran.
Intelijen AS (CIA) disebut sedang berupaya memberikan dukungan militer kepada milisi Kurdi, dengan tujuan strategis memicu pemberontakan rakyat di dalam wilayah Iran.
Laporan yang merujuk pada diskusi aktif antara Washington dengan pimpinan Kurdi di Irak dan Iran mengindikasikan bahwa ini bukan sekadar manuver militer, melainkan upaya untuk mengubah peta politik domestik Iran melalui tekanan dari dalam dan luar.
Strategi “Dua Sisi”, Militer dan Sipil
Berdasarkan informasi yang dihimpun, taktik utama operasi ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata. Strategi Washington dirancang untuk menggunakan pasukan bersenjata Kurdi sebagai “pengikat” atau distraksi yang memaksa pasukan keamanan Iran (IRGC) terfokus di wilayah perbatasan barat.
Tujuannya adalah agar ketika pasukan keamanan Iran disibukkan dengan ancaman di perbatasan, warga sipil di kota-kota besar Iran memiliki ruang untuk melancarkan protes massa tanpa menghadapi risiko tindakan represif yang brutal seperti pada kerusuhan Januari lalu.
“Pemerintahan Trump sedang berdiskusi secara aktif dengan kelompok oposisi Iran dan pemimpin Kurdi di Irak untuk memberikan dukungan militer tersebut,” ungkap laporan tersebut.
Sebagai enabler (pemulus) operasi, militer Israel dilaporkan telah mengintensifkan serangan ke pos-pos militer Iran di sepanjang perbatasan Irak guna membuka koridor bagi pergerakan pasukan Kurdi.
Mobilisasi Pasukan di Perbatasan
Di lapangan, eskalasi telah terlihat nyata. Kelompok oposisi seperti Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) dan Komala kini telah memobilisasi ribuan pejuang mereka ke dekat perbatasan Iran di provinsi Sulaymaniyah, Irak utara.
Pejabat senior Kurdi Iran mengonfirmasi bahwa mereka telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak AS terkait rencana ini.
Bahkan, Presiden Trump dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon langsung dengan Presiden Partai Demokratik Kurdistan Iran (KDPI), Mustafa Hijri, serta para pemimpin utama Kurdi Irak seperti Masoud Barzani dan Bafel Talabani untuk memastikan dukungan militer dan akses perbatasan.
Tantangan Geopolitik dan Risiko “Pengkhianatan”
Meskipun terlihat ambisius, rencana ini menghadapi kritik tajam. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Jen Gavito, memperingatkan bahwa langkah mempersenjatai milisi ini berisiko tinggi merusak kedaulatan Irak dan menciptakan aktor bersenjata tanpa akuntabilitas yang jelas.
Selain itu, terdapat tiga hambatan besar yang membayangi rencana ini:
- Fragmentasi Internal: Intelijen AS sendiri menilai bahwa kelompok Kurdi masih terpecah secara ideologis dan sumber daya, sehingga menyukseskan pemberontakan tanpa dukungan masif sangatlah sulit.
- Ketidakpercayaan Sejarah: Kelompok Kurdi memiliki trauma panjang akibat rekam jejak AS yang kerap meninggalkan sekutu mereka di Timur Tengah. Hal ini membuat mereka menuntut jaminan politik konkret dari Washington sebelum berkomitmen penuh.
- Risiko Regional: Bagdad kini berada dalam posisi yang sangat sulit, ditekan oleh Teheran untuk melucuti kelompok oposisi tersebut, sementara Washington menekan mereka untuk membuka akses. Mengenal Kurdi: Etnis Terbesar Tanpa Negara
Untuk memahami mengapa Kurdi menjadi sentral dalam konflik ini, perlu diingat bahwa mereka adalah kelompok etnis yang mendiami kawasan pegunungan yang terbagi di lima negara: Turki, Irak, Iran, Suriah, dan Armenia.
Dengan populasi sekitar 25 hingga 30 juta jiwa, Kurdi adalah kelompok etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri.
Identitas mereka, yang disatukan oleh bahasa (seperti Kurmanji dan Sorani) serta sejarah, menjadikan mereka kekuatan politik yang sangat berpengaruh namun sekaligus rentan di Timur Tengah.
Di Irak, mereka memiliki wilayah otonom, sementara di Iran dan negara lain, mereka umumnya hidup sebagai minoritas yang sering kali bersentuhan dengan kebijakan represif pemerintah pusat.
Dinamika ini membuat isu Kurdi tetap menjadi faktor penentu stabilitas kawasan, sekaligus kerentanan yang kini dimanfaatkan dalam peta konflik yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Laporan: Tim
