TintaOtentik.co – Di tengah mencuatnya isu pelemahan daya beli masyarakat, pemandangan di pusat perbelanjaan atau mal ternyata diklaim masih terpantau ramai. Meski demikian, ada pergeseran mencolok pada perilaku konsumsi masyarakat saat bertransaksi di dalam mal.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa kurva kunjungan publik ke pusat perbelanjaan sejauh ini terbilang konisten.
Berdasarkan data internal asosiasi, belum ada indikasi kemerosotan jumlah pengunjung yang drastis.
“Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja. Jadi tingkat kunjungan kalau berdasarkan data kami itu tetap dalam kondisi stabil lah dapat dikatakan, ya ada turun naik sedikit, tetapi saya kira dalam kondisi stabil begitu,” papar Alphonzus saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (8/6/2026).
Menurut pengamatannya, dinamika yang terjadi saat ini bukanlah penurunan minat berkunjung, melainkan perubahan strategi belanja.
Selama satu hingga dua tahun belakangan, konsumen lokal menjadi jauh lebih selektif dengan memprioritaskan komoditas yang memiliki harga satuan (unit price) lebih ekonomis.
“Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Begitu kan sudah ada satu, Trigger dua tahun terakhir ini tren belanjanya berubah begitu, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya, atau unit price-nya itu kan murah, kecil begitu,” imbuhnya.
Walau begitu, Alphonzus menggarisbawahi jika semua kategori barang yang dijajakan di ritel modern sebenarnya masih terserap pasar.
Titik perbedaannya hanya terletak pada pemilihan tingkat harga yang dinilai lebih ramah di kantong.
“Tapi perlu dicatat, semua kategori produk itu dibeli ya, bukannya ada yang tidak dibeli, hampir hampir semua dibeli hanya saja dipilihnya yang harga satuannya, atau unit price-nya murah,” tegasnya.
Sikap konsumen yang condong memilih harga ekonomis ini, menurut Alphonzus, menjadi pemantik utama mengapa pasar komoditas berharga murah kian menjamur.
Fenomena ini pun berkolerasi langsung dengan kian maraknya peredaran barang impor ilegal hingga pakaian bekas di pasar domestik.
“Maka itulah yang terjadi, bahwa barang impor ilegal semakin banyak, semakin marak, pakaian bekas semakin banyak diminati,” bebernya.
“Jadi sebetulnya semua (jenis barang) dibeli (masyarakat), tetapi harga satuannya, produk unit price-nya yang murah begitu. Saya kira itu yang terjadi,” sambung Alphonzus.
Di sisi lain, bertahannya angka kunjungan ke mal di tengah situasi ekonomi yang menantang tidak lepas dari kultur sosial masyarakat Indonesia yang gemar bersosialisasi dan berkumpul bersama.
“Tingkat kunjungan.. masyarakat tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan. Jadi relatif tidak terlalu banyak penurunan lah untuk tingkat kunjungan begitu. Apalagi orang Indonesia kan budayanya suka berkumpul. Jadi saya kira susah atau tidak susah tetap kumpul kan, iya. Ya tempat kumpulnya di mana? Ya salah satunya pusat perbelanjaan,” tuturnya.
Meski tingkat kunjungan stabil dan ekspansi ritel terus berjalan, perubahan pola belanja ini pada akhirnya menahan laju pertumbuhan omzet industri ritel secara keseluruhan.
Alphonzus menjabarkan bahwa grafik penjualan memang masih bergerak positif, namun kenaikannya tidak sebanding dengan potensi ekspansi yang tengah dilakukan pelaku usaha.
Secara teori, dengan banyaknya pusat perbelanjaan baru yang diresmikan serta gelombang masuknya merek-merek retail asing, angka penjualan nasional harusnya terdongkrak lebih masif.
“Iya penurunan, dalam pengertian penurunan tidak ada kenaikan, mungkin saya lebih tepatnya menyebutnya begitu. Karena kalau penurunan itu kan banyak faktor yang membuat naik begitu, kenapa? Pusat perbelanjaannya bertambah,” jelasnya.
Apalagi, saat ini ekspansi jaringan mal dan toko ritel baru gencar menyasar wilayah di luar Jakarta. Ditambah lagi dengan masifnya pembukaan gerai dari jenama-jenama global, khususnya asal China.
“Jadi sebetulnya, harusnya terjadi kenaikan yang cukup signifikan begitu. Sebetulnya kayak contoh misalkan merek-merek asing kan banyak masuk kan? Merek-merek China dan sebagainya gitu loh. Pusat perbelanjaannya cenderung juga bertambah, terutama di daerah-daerah yang tadinya belum ada pusat perbelanjaan sekarang ada pusat perbelanjaan begitu,” rincinya.
“Teman-teman peritel juga kan banyak yang membuka toko-toko baru kan di luar daerah luar Jakarta begitu,” kata Alphonzus menambahkan.
Namun pada realitasnya, gempuran sentimen ekonomi global dan ketatnya kondisi finansial domestik membuat daya beli masyarakat menahan laju pertumbuhan tersebut.
“Jadi sebetulnya secara teori terjadi peningkatan yang signifikan, tapi karena tekanan daya beli, karena berbagai macam tekanan akibat global segala macam, itulah yang membuat peningkatannya tidak signifikan begitu,” tutup Alphonzus.
