3.400 Triliun untuk Perang Iran, Akankah Usulan Pentagon Ini Diterima Trump?

0

TintaOtentik.Co – Eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini memasuki babak baru yang krusial. Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dilaporkan telah mengajukan permohonan anggaran fantastis senilai US$200 miliar atau setara Rp3.400 triliun untuk mendanai operasi tempur tersebut.

Langkah ini muncul di tengah sinyal yang membingungkan dari Gedung Putih terkait pengerahan pasukan darat.

Presiden Donald Trump, dalam pernyataan terbarunya, menegaskan keengganannya untuk mengirimkan infanteri ke medan tempur, meski ia tetap membuka segala kemungkinan strategis.

“Saya tidak akan mengerahkan pasukan ke mana pun,” ujar Trump saat merespons pertanyaan wartawan terkait potensi operasi darat. Namun, ia menambahkan dengan nada penuh rahasia, “Jika saya melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda.”

Pernyataan Trump ini muncul hanya dua hari setelah dirinya sempat mengaku “tidak takut” untuk menerjunkan personel di darat. Ketidakpastian sikap sang Presiden disinyalir dipicu oleh dampak ekonomi yang mulai terasa.

Serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk kompleks gas South Pars di Iran dan fasilitas di Ras Laffan, Qatar, telah mengguncang pasar minyak dunia.

Meskipun menyadari risiko kenaikan harga energi, Trump menilai langkah militer ini merupakan sebuah keharusan demi mencegah skenario yang lebih buruk.

“Saya pikir ada kemungkinan situasinya bisa jauh lebih buruk,” katanya. Trump mencoba memberikan optimisme dengan menyatakan, “Ini tidak buruk, dan akan segera berakhir.” Walaupun demikian, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai parameter berakhirnya konflik tersebut.

Meski Trump berbicara dengan nada menenangkan, fakta di lapangan menunjukkan persiapan untuk perang yang berlarut-larut.

Dana US200 miliar yang diminta Pentagon diperkirakan mampu menyokong operasi selama berbulan-bulan, mengingat biaya enam hari pertama saja sudah menelan US11,3 miliar.

Secara taktis, militer AS kini berada dalam persimpangan untuk mengambil alih objek vital Iran, seperti Pulau Kharg yang menjadi pusat pemuatan minyak, serta situs nuklir bawah tanah di Isfahan. Operasi skala besar ini diyakini mustahil dilakukan tanpa keterlibatan pasukan darat.

Indikasi penguatan militer semakin nyata dengan dimobilisasinya 2.500 personel dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 wilayah Indo-Pasifik ke Timur Tengah.

Penambahan ini menggenapi total kekuatan militer AS di kawasan tersebut menjadi sekitar 50.000 prajurit, sebuah formasi yang cukup untuk melancarkan serangan darat strategis guna mengamankan Selat Hormuz dari ancaman blokade Iran.

Laporan: Tim

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version