TintaOtentik.Co – Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok menakutkan sekaligus ancaman serius bagi ketahanan kesehatan publik.
Berdasarkan data terbaru dari Global TB Report, Indonesia kini bertengger di peringkat kedua dunia sebagai penyumbang penderita TBC terbanyak setelah India, dengan estimasi mencengangkan 1.080.000 kasus baru dan angka kematian mencapai 126.000 jiwa per tahun.
Menyikapi alarm bahaya tersebut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan bergerak agresif. Hingga Triwulan II tahun 2026, Dinas Kesehatan Tangsel mencatat ada 17.168 warga yang berstatus terduga TBC.
Dari angka tersebut, sebanyak 2.872 kasus positif berhasil ditemukan, dan 2.535 pasien di antaranya telah memulai langkah pengobatan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, M.K.M., menegaskan bahwa pasien TBC aktif yang belum terdeteksi di lapangan merupakan tantangan terbesar karena berpotensi menjadi sumber penularan masif di tengah masyarakat melalui percikan dahak (droplet) saat batuk atau bersin.
Namun, ia memastikan penyakit ini bisa disembuhkan total melalui pengobatan yang tuntas dan tanpa dipungut biaya.
“Penyakit TBC yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis ini dapat disembuhkan dengan menjalani pengobatan secara tuntas.
Masyarakat bisa segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Kami menjamin seluruh pengobatan diberikan secara gratis bagi pasien yang menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT),” tegas dr. Allin dalam keterangan resminya.
Strategi Lintas Sektor dan Perburuan Kasus Aktif
Demi memutus mata rantai penularan di wilayahnya, dr. Allin membeberkan serangkaian program taktis dan terintegrasi yang saat ini tengah digulirkan secara masif oleh Dinas Kesehatan Tangsel di berbagai lini masyarakat.
“Kami menerapkan strategi penanggulangan TBC yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Pertama, kami mengintensifkan skrining melalui Pekan Investigasi Kontak (PInTaS) sebanyak dua kali setahun untuk melacak kontak serumah dan kontak erat pasien. Kedua, kami melakukan percepatan penemuan kasus lewat gerakan Active Case Finding (ACF) yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT),” urai dr. Allin.
Lebih lanjut, dr. Allin menjelaskan bahwa upaya jemput bola tidak hanya berhenti di lingkungan keluarga, melainkan merambah ke institusi publik dan kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi.
“Ketiga, kami membawa layanan skrining TBC dan CKG ini langsung ke sekolah, pondok pesantren, perusahaan, hingga kantor-kantor OPD. Keempat, bagi pasien yang sedang dirawat, kami melakukan pendampingan ketat melalui gerakan SIGAP TBC (Siap Beraksi Cegah Putus Berobat TBC) guna melacak penderita yang berpotensi mangkir dari pengobatan. Kelima, kami juga membidik populasi berisiko tinggi seperti penyandang Diabetes Melitus, perokok, dan ODHIV melalui penemuan aktif,” tambahnya.
Targetkan 170 RW Bebas TBC Menuju Gerakan TOSS
Sebagai bentuk penguatan di tingkat akar rumput, Dinkes Tangsel juga menggalang komitmen bersama warga melalui program Deklarasi RW Bebas TBC.
Langkah ini menargetkan keterlibatan 20 persen RW dari total jumlah RW di setiap kelurahan yang ada di Tangerang Selatan.
“Hingga saat ini, sudah ada 49 RW yang resmi mendeklarasikan diri sebagai RW Bebas TBC dari target keseluruhan sebanyak 170 RW di tahun 2026. Tentu keberhasilan ini tidak bisa berdiri sendiri, kami terus memperkuat kolaborasi lintas program dan lintas sektor demi mewujudkan Tangsel yang sehat. Mari kita sukseskan bersama Salam TOSS TBC: Temukan, Obati Sampai Sembuh!” pungkas dr. Allin.
Melalui komitmen bersama dan keterbukaan masyarakat untuk memeriksakan diri secara dini, Pemkot Tangsel optimistis dapat menekan laju insiden TBC secara signifikan dan memberikan perlindungan kesehatan yang maksimal bagi seluruh warganya.
Laporan: iwan
