​Kondisi Trance Pasar Valas: Dolar Tertahan, Won dan Rupiah Pimpin Penguatan Asia

0

TintaOtentik.co – Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan dinamika dua arah yang kontras terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi perdagangan Jumat (28/8/2026).

Sikap dolar AS yang cenderung bergerak datar (stagnan) memicu respons beragam di pasar valuta asing regional, membagi mata uang Asia ke dalam dua kubu antara yang terapresiasi dan yang terperosok.

Data pasar Refinitiv per pukul 09.18 WIB mencatat performa 10 mata uang utama Asia terbagi berimbang: lima mata uang berhasil merangsek ke zona hijau, sementara lima sisanya harus rela terkoreksi.

Kinerja paling impresif ditunjukkan oleh Won Korea Selatan yang memimpin reli penguatan di Asia usai melonjak 0,24% ke level KRW 1.378,1 per dolar AS.

Tren positif ini diikuti Dolar Taiwan yang naik 0,15% ke posisi TWD 31,627 per dolar AS, serta Rupiah yang tampil perkasa dengan apresiasi 0,14% ke level Rp17.690 per dolar AS.

Mengiringi zona hijau, Ringgit Malaysia terangkat 0,12% ke posisi MYR 4,025 per dolar AS dan Dolar Singapura menguat tipis 0,06% ke level SGD 1,27 per dolar AS.

Sebaliknya, tekanan hebat justru menghantam Peso Filipina yang menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di Asia pagi ini setelah anjlok 0,47% ke level PHP 62,153 per dolar AS.

Baht Thailand mengekor di zona merah dengan penurunan 0,18% ke posisi THB 32,92 per dolar AS, disusul Dong Vietnam yang melemah 0,07% ke VND 26.095 per dolar AS.

Sementara itu, dua mata uang raksasa ekonomi Asia, Yuan China dan Yen Jepang turut tertekan masing-masing sebesar 0,03% (CNY 6,7216 per dolar AS) dan 0,02% (JPY 159,4 per dolar AS).

Dinamika variatif pasar valas Asia ini tak lepas dari pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) yang landai dengan penurunan tipis 0,01% ke level 99,151.

Meski sempat bangkit sekitar 0,35% sepanjang pekan ini setelah merosot 0,83% di pekan sebelumnya akibat sentimen pernyataan Menkeu AS Scott Bessent terkait skema buyback obligasi jangka panjang pelaku pasar kini cenderung mengambil sikap wait and see.

Fokus utama investor tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole untuk mencari kejelasan arah kebijakan suku bunga serta respons terhadap lonjakan imbal hasil (yield) Treasury AS.

Ketidakpastian arah pasar ini diamini oleh Erik Bregar, Director of FX and Precious Metals Risk Management Silver Gold Bull. Ia menilai pergerakan mata uang saat ini masih sangat tertahan oleh penantian sinyal dari The Fed.

“Saya sebenarnya terkejut dolar tidak sedikit lebih kuat. Pasar FX, jujur saja, sedang seperti berada dalam kondisi trance,” ujar Bregar, dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan penurunan klaim awal tunjangan pengangguran selama dua pekan beruntun menjadi 203.000, lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 208.000, ternyata belum mampu menjadi bahan bakar utama untuk menggerakkan Greenback secara signifikan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version