Unjuk Gigi Mata Uang Asia, Ringgit dan Rupiah Perkasa Tekan Dolar AS

0

TintaOtentik.co – Mayoritas mata uang di kawasan Asia sukses melibas dolar Serikat (AS) pada transaksi Rabu pagi (26/8/2026). Terpuruknya greenback memberi napas segar bagi pergerakan mata uang regional, meski laju penguatannya belum merata di seluruh negara.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.17 WIB, tujuh dari sepuluh mata uang utama Asia berhasil merangsek ke zona hijau memukul dolar AS. Sementara itu, dua mata uang terjerat di zona merah dan satu mata uang lainnya bergerak stagnan.

Ringgit Malaysia menjadi jawara pasar uang Asia setelah melesat paling tajam sebesar 0,54% ke level MYR 4,022 per dolar AS.

Tak mau kalah, Rupiah menyusul di urutan kedua sebagai mata uang dengan performa paling kinclong.

Mata uang Garuda menguat 0,14% ke posisi Rp17.680 per dolar AS. Katalis positif bagi rupiah terdorong oleh respons positif pasar yang mencermati proses fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti.

Tren positif ini juga mengekor pada Yen Jepang yang terapresiasi 0,13% ke level JPY 158,95 per dolar AS, Dong Vietnam yang naik 0,10% ke VND 26.084 per dolar AS, serta Peso Filipina yang terangkat 0,08% ke posisi PHP 61,519 per dolar AS.

Won Korea Selatan dan Dolar Taiwan turut terkerek tipis masing-masing 0,05% dan 0,02%. Sebaliknya, Yuan China bertahan stagnan di angka CNY 6,72 per dolar AS.

Nasib berbeda dialami Baht Thailand yang memimpin pelemahan regional setelah terkoreksi 0,03% ke level THB 32,68 per dolar AS, disusul Dolar Singapura yang meluncur tipis 0,01% ke posisi SGD 1,269 per dolar AS.

Sentimen The Fed hingga Sinyal Buyback Obligasi AS

Loyonnya keperkasaan Dolar AS, tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang merosot tipis 0,01% ke kisaran 98,907, tak lepas dari bayang-bayang ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter Negeri Paman Sam.

Pasar merespons negatif pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang berencana melipatgandakan aksi buyback obligasi bertenor panjang.

Meski niat awalnya untuk menahan lonjakan biaya pinjaman, pelaku pasar justru membaca langkah ini sebagai intervensi langsung pemerintah atas imbal hasil (yield)obligasi.

Tekanan terhadap Dolar AS kian bertambah seiring memudarnya spekulasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September mendatang.

Data CME FedWatch mencatat ekspektasi lonjakan suku bunga The Fed minimal 25 basis poin merosot menjadi 40,1%, dari yang sebelumnya berada di angka 55%.

Chief Market Strategist Bannockburn Capital Markets, Marc Chandler, menilai pergerakan dolar AS saat ini sangat dipengaruhi oleh pergulatan antara sentimen fundamental yang negatif dan kondisi teknikal yang sudah terlalu jenuh jual (oversold).

“Fundamental tampaknya bergerak melawan dolar, apakah itu karena Bessent, atau karena bank sentral lain diperkirakan menaikkan suku bunga lebih besar dibandingkan The Fed. Jadi fundamentalnya negatif. Namun, dolar sudah terlalu jauh tertekan, indikator momentumnya sudah oversold,” ujar Chandler, dikutip dari Reuters.

“Menurut saya, itulah ketegangan yang terjadi, teknikal dolar yang sudah oversold dan fundamental yang bearish,” tambahnya.

Di sisi lain, pasar finansial juga memantau eskalasi sanksi AS terhadap Iran terkait ancaman pemutusan bisnis berbasis dolar.

Namun, minimnya rincian spesifik mengenai penindakan terhadap mitra dagang utama Iran seperti China membuat respons pasar terhadap greenback relatif tertahan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version