Krisis Listrik Parah Hantam Filipina, Cebu Berada di Ambang Pemadaman Massal

0

Tinta Otentik.co – Negara tetangga Indonesia, Filipina, kini dibayang-bayangi krisis energi serius. Operator listrik nasional setempat, National Grid Corp of the Philippines (NGCP), merilis peringatan siaga darurat terkait keterbatasan pasokan listrik di Kepulauan Visayas.

Dimana kawasan Cebu menjadi titik terparah akibat lonjakan konsumsi yang gagal diimbangi oleh kapasitas pembangkit lokal.

Asisten Wakil Presiden NGCP sekaligus Kepala Operasi Sistem Visayas, Neil Modena, membeberkan bahwa wilayah Cebu saat ini sudah kehilangan kemampuan mandiri untuk memproduksi pasokan energi dalam kondisi operasional harian.

“Yang terburuk ada di Cebu. Permintaannya adalah 1.300 megawatt (MW), tetapi pembangkit di area tersebut hanya dapat memberikan 900 MW. Setiap hari ada kekurangan daya, dan kami mendapatkan daya dari Mindanao,” beber Modena sebagaimana dikutip dari Manila Times, Jumat (25/9/2026).

Guna menutupi defisit sekitar 400 MW per hari, Cebu terpaksa menggantungkan nasibnya pada pasokan daya impor dari Pulau Mindanao melalui infrastruktur kabel bawah laut transmisi arus searah tegangan tinggi sepanjang 184 kilometer, yang baru beroperasi penuh sejak awal 2024.

Modena menyoroti stagnasi pembangunan infrastruktur energi yang menjadi akar masalah, di mana fasilitas pembuat daya skala besar terakhir di Cebu yang beroperasi adalah Therma Visayas Energy Project berkapasitas 340 MW pada akhir 2019 lalu.

“Jika NGCP tidak menyelesaikan proyek tersebut, pemadaman listrik di Cebu akan sangat parah karena tidak ada pembangkit listrik baru yang dibangun di Cebu setelah tahun 2019. Cebu tumbuh seperti Iloilo. Kami benar-benar kekurangan pasokan,” cetus Modena.

Persoalan krisis daya ini tidak hanya mengisolasi Cebu. Modena memaparkan bahwa kondisi serupa membayangi Pulau Panay yang mengandalkan unit pembangkit tua bertanggal operasi 2016 milik Panay Energy Development Corp (PEDC).

“Jika PEDC Unit 3 tidak ada, Panay akan mendapat sekitar 75 MW dari Negros. Itu berarti, berdasarkan konsumsi Panay, jika Anda kehilangan satu pembangkit saja, Anda sudah perlu mengimpor daya dari Negros. Jadi Anda akan kekurangan 75 MW,” urainya.

Modena mewanti-wanti bahwa mengandalkan fasilitas kelistrikan yang mulai mengalami penuaan sangat riskan memicu unplanned outage (pemadaman tak terencana) yang bakal langsung melumpuhkan jaringan.

“Ini berarti Anda tidak dapat mempertahankan sebuah pulau jika Anda kehilangan satu pembangkit beban dasar,” pangkasnya.

Sebagai langkah antisipasi darurat saat pasokan lumpuh total, NGCP menerapkan skema Manual Load Dropping (MLD) atau pemadaman bergilir terencana secara proporsional.

Berdasarkan data periode Mei hingga September 2026, Cebu menanggung beban pemadaman terbesar yaitu sebesar 42% dari total alokasi pemangkasan daya di seluruh Visayas, disusul Panay (21%), Negros (18%), Leyte (13%), dan Bohol (8%).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version