Lawan Krisis, Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF

0

TintaOtentik.co – Pemerintah Indonesia secara tegas memilih jalur mandiri dalam menghadapi tantangan ekonomi global dengan menolak saran Dana Moneter Internasional (IMF).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Indonesia enggan menerapkan kebijakan pengetatan belanja atau austeritas yang kerap didorong lembaga tersebut saat kondisi krisis.

Berdasarkan pengalaman panjang menangani krisis sejak 1998 hingga pandemi 2020, Purbaya memastikan bahwa formula kebijakan dalam negeri saat ini jauh lebih efektif.

“2025 kemarin kita ubah ke arah yang bagus. Itu bukan karangan saya, tapi dari pengalaman negara Indonesia selama 25 tahun terakhir tambah krisis 1998,” tegas Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).

Alih-alih memangkas anggaran atau “mengencangkan ikat pinggang” ala IMF, pemerintah justru memilih langkah ekspansif dengan mengguyur berbagai sektor melalui insentif fiskal.

“Jadi dalam keadaan seperti itu, ketika ekonomi ada gangguan, kita tidak menerapkan pendekatan IMF, (yaitu) mengencangkan ikat pinggang, memotong semua belanja, dan lain-lain,” terang Purbaya.

Strategi ini dibuktikan dengan alokasi insentif pajak yang masif di tahun 2025. Sektor UMKM menjadi prioritas utama dengan suntikan Rp96,4 triliun, disusul pembebasan PPN bahan pangan pokok senilai Rp77,3 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, dukungan fiskal juga menyasar sektor transportasi sebesar Rp39,7 triliun, pendidikan Rp25,3 triliun, serta kesehatan Rp15,1 triliun. Untuk menarik investasi, pemerintah juga mengucurkan Rp7,1 triliun melalui skema tax holiday dan tax allowance.

Langkah ini pun menunjukkan hasil positif pada indikator konsumsi riil. Berdasarkan Mandiri Spending Index bulan Februari, aktivitas belanja masyarakat naik ke level 360,7 dengan pertumbuhan penjualan ritel mencapai 6,9 persen.

Sektor otomotif bahkan mencatat lonjakan penjualan mobil hingga 12,2 persen, yang menurut Purbaya menjadi sinyal meningkatnya taraf ekonomi masyarakat.

“Motor juga sempat naik tinggi walaupun agak turun di bulan Februari, tapi kita lihat masih tumbuh positif dan mungkin sebagian pembeli motor sudah kaya, sekarang jadi bergeser ke (mobil). Mudah-mudahan (yang) jadi beli mobil lebih banyak,” ucapnya.

Meski konsumsi listrik industri sedikit melandai, optimisme tetap terjaga seiring tumbuhnya konsumsi semen domestik sebesar 5,3 persen yang menandakan geliat konstruksi masih terus berjalan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version