Tintaotentik.co – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menyoroti bahwa serangkaian kunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto sepanjang tahun 2024 hingga 2025 ke berbagai negara mitra dan mitra strategis telah berfungsi untuk memperkukuh kedudukan Republik Indonesia sebagai global middle power.
Dalam pidatonya saat menyampaikan Refleksi dan Rilis Akhir Tahun 2025 serta Outlook 2026 di Gedung Lemhannas, Jakarta, Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menjelaskan bahwa status ini mengindikasikan adanya kapasitas Indonesia untuk memberikan pengaruh substantif dalam arena internasional.
Ia menambahkan, konteks ini semakin relevan mengingat kawasan ASEAN kini telah bertransformasi menjadi episentrum baru dalam geostrategi dunia.
“Indonesia telah menampilkan peran diplomasi yang proaktif, adaptif, dan berwibawa melalui penerapan pendekatan multiple alignment,” ujar Ace.
Menurutnya, pendekatan ini adalah perwujudan aktual dari pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif dalam konstelasi global kontemporer.
Tantangan Global dan Regional
Ace Hasan Syadzily juga memaparkan bahwa berbagai konflik yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia—mulai dari Ukraina, Laut Merah, Timur Tengah, konflik India-Pakistan, hingga Semenanjung Korea—menegaskan bahwa isu-isu seperti kemanusiaan, energi, dan keamanan global tetap menjadi faktor krusial yang menentukan stabilitas dunia secara keseluruhan.
Lebih lanjut, di kawasan Indo-Pasifik, dinamika geopolitik saat ini diwarnai oleh peningkatan postur militer, eskalasi kompetisi maritim, dan manuver yang semakin intensif dari kekuatan-kekuatan besar.
Selain itu, konflik regional di ASEAN, seperti di Thailand dan Kamboja, turut memperkeruh lanskap geopolitik kawasan.
Menanggapi rivalitas antara kekuatan-kekuatan besar dunia, Lemhannas menekankan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang menuntut kemampuan untuk mempertahankan diri sebagai kekuatan penyeimbang.
Sekaligus, Indonesia harus berfungsi sebagai kekuatan konstruktif di tengah dinamika forum-forum internasional seperti Indo-Pasifik, BRICS, ASEAN, dan G20.
Pentingnya Hilirisasi dan Tata Kelola Sumber Daya
Lemhannas memprediksi bahwa persaingan untuk memperebutkan sumber daya alam kritis—terutama nikel, bauksit, tembaga, dan logam tanah jarang—akan menjadi semakin sengit. Menghadapi kondisi ini, Ace menegaskan: “Indonesia wajib memperkuat kebijakan hilirisasi, memperluas rantai pasok di tingkat domestik, serta menjamin tata kelola yang transparan dan berkeadilan.”
Secara keseluruhan, evaluasi Lemhannas menyimpulkan bahwa sepanjang tahun 2025, Indonesia berada pada lintasan yang secara internal dinilai cukup tangguh, namun harus tetap menghadapi dinamika global yang masih mengandung risiko tinggi.
“Oleh karena itu, tahun 2026 harus dijadikan sebagai momentum untuk mempercepat pembangunan nasional sekaligus meningkatkan peran diplomasi internasional kita,” tutup Ace.
