Tintaotentik.co – Sektor perbankan nasional tengah mencatatkan tumpukan fasilitas kredit yang belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) dalam jumlah yang cukup fantastis. Hingga November 2025, total dana yang masih “terparkir” ini menembus angka Rp 2.509,4 triliun. Meski angka tersebut terlihat statis, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru melihatnya sebagai amunisi besar bagi ekspansi ekonomi di masa depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa tingginya angka kredit menganggur ini mengindikasikan adanya ruang gerak yang luas bagi para pelaku usaha untuk melakukan tarik kredit guna ekspansi.
“Dengan adanya komitmen kredit/pembiayaan yang besar tersebut, terdapat potensi peningkatan realisasi kredit di masa mendatang,” ujar Dian.
Ia memproyeksikan, jika kepercayaan dunia usaha terus menguat, pencairan dana tersebut akan menjadi motor penggerak bagi sektor riil.
Secara tren, volume kredit yang belum terserap ini terus mendaki, dari Rp 2.372 triliun pada Agustus hingga melampaui Rp 2.500 triliun pada pengujung tahun.
OJK meyakini tren ini akan mulai melandai seiring dengan langkah perbankan dalam menyesuaikan strategi bisnis serta respons terhadap penurunan suku bunga pinjaman dan akselerasi belanja pemerintah.
Keyakinan ini diperkuat oleh data makroekonomi yang menunjukkan sinyal pemulihan. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada November 2025 yang meroket ke level 53,50 serta Indeks Keyakinan Konsumen yang kokoh di angka 124,03 menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi kian bergairah.
Kondisi ini diprediksi akan memacu permintaan kredit dalam waktu dekat.
Dian menegaskan bahwa koordinasi lintas otoritas terus diperkuat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“OJK secara aktif senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah dan stakeholders lainnya termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terkait berbagai kebijakan dalam rangka melakukan monitoring dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, turut menyoroti besarnya porsi dana yang belum terserap ini. Berdasarkan data BI, angka Rp 2.509,4 triliun tersebut mencakup 23,18% dari total plafon kredit yang tersedia di industri perbankan saat ini.
“Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp 2.509,4 triliun,” pungkas Perry.
