Putus Rantai Tengkulak, Kata Petani MBG adalah Penyelamat

0

TintaOtentik.co – Transformasi besar atas efek program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam tata niaga pangan mulai dirasakan secara nyata oleh para petani di Indonesia. Salah satunya yakni pertani hortikultura di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Kecamatan Selo, Boyolali.

MBG kini menjadi instrumen penting dalam menciptakan jalur distribusi pendek yang menghubungkan langsung antara ladang petani dengan dapur pelayanan gizi.

Selama ini, para petani sering kali terjebak dalam rantai distribusi panjang yang didominasi oleh sistem pengepul. Kondisi ini membuat posisi tawar petani lemah karena harga ditentukan sepenuhnya oleh pasar besar seperti Cepogo, Bandungan, hingga Sragen.

Namun, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Podo Moro di Gebyog perlahan mengubah peta distribusi tersebut.

Budi, salah satu petani di Dukuh Pasah, Desa Senden, menceritakan bagaimana kesehariannya kini memiliki tujuan distribusi yang lebih pasti.

Di atas lahan suburnya, ia mengelola berbagai jenis sayuran berkualitas tinggi yang kini menjadi komponen utama menu gizi masyarakat.

“Saya petani hortikultura, menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, tomat, brokoli, wortel, dan lainnya,” jelas Budi saat ditemui di sela aktivitasnya, Sabtu (5/4/2026).

Efisiensi Rantai Pasok dan Stabilitas Harga

Meski kapasitas serapan saat ini masih dalam tahap pengembangan awal, Budi menyebut efisiensi ini berdampak langsung pada dompet petani.

Dengan memangkas peran tengkulak, margin keuntungan yang biasanya hilang di tengah jalan kini bisa kembali ke kantong para produsen pangan di tingkat desa.

“Sejauh ini sudah ada kerja sama dengan MBG, tapi kapasitasnya masih terbatas,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengakui bahwa skema ini memberikan nilai tawar dan keamanan finansial yang jauh lebih baik bagi petani lokal.

“Program MBG ini sangat membantu, karena harga sayuran bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dari sisi ekonomi tentu menambah pendapatan kami sebagai petani. Selain itu, serapan komoditas di dukuh kami juga menjadi lebih beragam,” tutur Budi dengan nada optimis.

Bagi komunitas petani di Selo, program MBG bukan sekadar proyek musiman, melainkan harapan akan ekosistem pertanian yang lebih sehat.

Budi berharap pemerintah terus melakukan evaluasi agar volume serapan dari dapur-dapur MBG bisa terus meningkat dan melibatkan lebih banyak rekan sejawatnya.

“Program MBG ini sangat baik untuk dilanjutkan. Ke depan, mungkin bisa lebih dievaluasi agar kebutuhan dapur bisa semakin banyak menyerap produk kami. Ini sangat membantu,” harapnya.

Sebagai bentuk apresiasi atas kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil ini, Budi pun menitipkan pesan syukur untuk Presiden Republik Indonesia.

“Terima kasih, Pak Prabowo Subianto. Semoga program MBG terus berlanjut. Panjang umur dan sehat selalu,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version