TintaOtentik.co – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melakukan program intervensi gizi serentak yang menargetkan balita dengan masalah nutrisi.
Langkah ini diambil guna menekan angka stunting dengan menjadikan Kecamatan Serpong sebagai fokus utama penanganan karena mencatatkan angka kasus tertinggi di seluruh wilayah Tangsel.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, terdapat ratusan anak di Kecamatan Serpong yang membutuhkan penanganan gizi secara intensif dan berkelanjutan.
“Kalau prevelensinya sih Serpong 1,45 prevelensinya. Dari seluruh kota Tangerang Selatan, di Kecamatan Serpong memang paling tinggi dan paling tinggi ada di kelurahan Lengkong Wetan. Kalau jumlah agregatnya itu 185 balita,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Tangsel, Lilis Suryani, Senin (10/8).
Lilis menjelaskan, sebagai langkah awal, sebanyak 60 balita bermasalah gizi yang diprioritaskan berusia di bawah dua tahun dari enam wilayah kerja puskesmas di Serpong mulai menerima intervensi.
Ia melanjutkan, anak-anak yang dipilih mencakup kategori berat badan kurang, gizi kurang, hingga yang tidak mengalami kenaikan berat badan.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa penanganan stunting sejak dini sangat krusial.
Ia menambahkan, kondisi gizi buruk pada anak-anak akan berdampak pada kehidupan mereka setidaknya hingga dua dekade mendatang saat Indonesia memasuki tahun 2045.
“Yang pertama saya membayangkan mereka usia 20 tahun 2045. Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanannya paling tidak untuk supaya seimbang antara tinggi badan, umur, dan berat badannya, ya itu harus kita intervensi dari sekarang,” kata Benyamin.
Ia menuturkan, kendala pola makan pada anak-anak menjadi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk melibatkan pihak swasta dan yayasan sosial.
“Rata-rata memang ini sebuah fenomena ya, anak-anak balita itu susah dikasih makan, tapi kan ini mempengaruhi pertumbuhan, bukan saja fisik tapi juga mental, pikiran, dan lain sebagainya. Makanya ini kita intervensi melalui program pengentasan stunting,” lanjutnya.
Menurut Benyamin, skema intervensi ini akan berjalan selama 56 hari penuh di bawah pengawasan langsung puskesmas setempat.
Masing-masing balita target akan menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi lengkap yang dikombinasikan dengan edukasi pola asuh gizi dari nutrisionis.
“Ini untuk kecamatan Serpong ini kan ada enam puskesmas. Nah nanti kelanjutannya mereka yang … ini selama 56 hari. Jadi program ini terus nanti di-leading sektornya puskesmas masing-masing, mereka yang akan memberikan makanan tambahan kepada keluarga-keluarga yang menjadi sasaran,” terang Benyamin.
Ia menjelaskan lebih detail mengenai bentuk makanan tambahan serta mekanisme pengawasan harian agar bantuan tepat sasaran dan membuah hasil.
“Intervensinya itu diberikan makanan tambahan dari … selama 56 hari berupa makanan padat ya, jadi makanan dengan komposisi ada karbohidrat, ada protein, ada sayur dan ada buah, dan juga ada edukasi tentunya dari nutrisionis di masing-masing puskesmas,” paparnya.
Untuk memastikan kepatuhan dan mengukur efektivitas program, pemantauan dilakukan secara digital melalui aplikasi khusus bernama Stunting Hub. Kader dan orang tua diwajibkan mengunggah perkembangan anak setiap hari.
“Iya setelah mereka dan kadernya diajarkan, ada namanya stunting hub aplikasinya. Jadi nanti pemantauan untuk pemberantasan ini setiap hari difoto balitanya, diupload ke dalam aplikasi itu. Kemudian nanti ada pengukuran sebelum, sebelum diberikan PMT nanti mereka diukur berat badannya, tinggi badannya, semuanya, nanti dimonitoring setiap bulan dan nanti diakhirnya juga kita lihat ada gak penambahan berat badannya,” tutupnya.
