Tinta Otentik.co – Kebijakan hilirisasi pertambangan nasional mencetak sejarah baru di panggung industri global. Setelah konsisten membatasi ekspor bijih mentah dalam satu dekade terakhir, Indonesia resmi mengkudeta posisi China sebagai produsen nikel olahan nomor satu di dunia.
Pangsa pasar pengolahan nikel nasional melesat drastis dari yang tadinya hanya menyumbang 1% kini menguasai 41% dari total produksi global.
Berdasarkan publikasi data riset Our World in Data, lonjakan kapasitas pengolahan dalam negeri ini dipicu oleh konsistensi regulasi larangan ekspor bijih (raw ore) yang mewajibkan penambang melakukan pemurnian (smelting) di dalam negeri.
Catatan Our World in Data menunjukkan volume produksi nikel terolah Indonesia melonjak tajam dari yang semula hanya berkisar 22.000 ton pada 2014, meroket hingga menembus angka lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.
“Produksi Indonesia meningkat lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22.000 ton pada tahun 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada tahun 2023,” tulis laporan Our World in Data, dikutip Jumat (25/9/2026).
Pencapaian ini berhasil mengubah peta kekuatan pertambangan dunia yang selama hampir empat dekade menempatkan Indonesia sekadar sebagai pemasok bahan mentah.
Kini, kapasitas produksi olahan Indonesia berada jauh di atas negara-negara produsen utama lainnya seperti China, Rusia, Jepang, hingga Kanada.
Laporan tersebut mencatat bahwa tren produksi nikel olahan Indonesia mulai mengungguli volume produksi Tiongkok sejak tahun 2021.
“Pada tahun 2021, Indonesia menyalip Tiongkok untuk menjadi produsen terbesar di dunia dan sekarang jauh di depan. Tetapi sebagian besar dari pertumbuhan itu melibatkan modal China,” urai laporan tersebut.
Laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menguatkan catatan tersebut dengan menyoroti bahwa ekspansi masif fasilitas smelter di tanah air masih didominasi dan ditopang oleh kepemilikan aset serta investasi raksasa korporasi asal Tiongkok.
Bahlil: Pengendalian RKAB Amankan Harga Nikel Indonesia dari Permainan Spekulan
Di sisi lain, perbaikan tatanan tata kelola pasokan pertambangan terus dilakukan untuk mengamankan posisi tawar Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga nikel nasional kini memiliki daya tahan yang lebih kuat dan tidak mudah diintervensi oleh spekulan pasar internasional.
Bahlil menyampaikan bahwa penataan ulang alur supply and demand, salah satunya lewat pengendalian ketat persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) industri tambang, berhasil menciptakan stabilitas harga yang menguntungkan posisi Indonesia.
“Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita,” tegas Bahlil dalam sambutannya pada acara Donor Darah Hari Jadi Pertambangan ke-81 di Balai Sudirman, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Langkah pengetatan dan pengaturan pasokan ini menjadi kunci penting agar dominasi kapasitas produksi Indonesia di tingkat global berbanding lurus dengan kedaulatan penentuan harga komoditas di pasar internasional.
