Gelar Aksi, Petani Blora Tagih Janji Bulog Soal Hasil Panen Terancam Membusuk

0

TintaOtentik.Co – Kekesalan ribuan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora akhirnya memuncak.

Senin (1/6/2026), mereka menggelar aksi demonstrasi “Tumpah Tebu” dengan membuang hasil panen tebu tepat di gerbang masuk Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) di Todanan, Blora.

Aksi ini merupakan puncak dari rasa frustrasi petani setelah operasional pabrik terhenti akibat kerusakan mesin yang berkepanjangan. Akibatnya, hasil panen dari ribuan hektare lahan tebu terancam membusuk tanpa ada kejelasan nasib.

Sekretaris APTRI Blora, Anton Sudibyo, mengungkapkan bahwa aksi jilid kedua ini adalah langkah tegas menuntut realisasi komitmen Direktur Utama Perum Bulog yang sempat berjanji akan menyerap seluruh hasil panen petani lokal.

“Kami kumpul di sini menagih janji Dirut Bulog yang sudah tanda tangan di atas materai bahwa 100 persen tebu petani Blora akan diserap. Perjuangan sudah dilakukan dari ke Bupati sampai ke Menteri, tetapi sampai hari ini belum ada kegiatan penyerapan. Petani hanya diberi janji-janji,” ungkap Anton dengan nada tegas di hadapan massa.

Anton menekankan bahwa keterpurukan ini berdampak fatal bagi petani, mengingat modal bercocok tanam yang digunakan sebagian besar bersumber dari kredit perbankan.

Menurutnya, situasi ini justru kontraproduktif dengan target pemerintah dalam mencapai swasembada gula nasional pada 2027 mendatang.

Ia bahkan mengancam akan membawa isu ini langsung ke hadapan Presiden Prabowo jika pemerintah daerah dan pusat tidak segera memberikan solusi konkret.

Lumpuhnya PG GMM tidak hanya memukul petani, tetapi juga melumpuhkan sendi ekonomi masyarakat sekitar.

Mulai dari pekerja tebang, sopir angkutan, buruh bongkar muat, hingga pedagang kecil di sekitar pabrik kini kehilangan sumber penghasilan utama dari musim giling tahunan.

Dalam mimbar bebas tersebut, massa menuntut negara hadir untuk memberikan jaminan harga, transparansi terkait beban utang PG GMM, hingga desakan agar Komisi IV dan Komisi VI DPR RI turun langsung melihat nasib petani di lapangan.

Koordinator aksi, Exy Wijaya, menyatakan bahwa petani sejatinya sadar akan kendala teknis yang dialami pabrik. Namun, mereka menuntut solusi praktis seperti subsidi biaya angkut jika tebu harus dialihkan ke pabrik lain.

“Kami butuh jawaban, bukan narasi. Kalau memang tebu harus dikirim ke pabrik gula lain, berikan subsidi biaya angkut. Misalnya Rp 1 juta per truk. Yang penting hasil panen petani bisa terselamatkan,” tutur Exy.

Menanggapi aksi tersebut, Plt Dirut PG GMM, Sri Emilia Mudiyanti, didampingi Direktur Operasional Krisna dan perwakilan Bulog, Andin, menemui para demonstran.

Emilia mengakui bahwa kerusakan mesin yang tak kunjung teratasi menjadi hambatan utama operasional pabrik.

“Kami memahami kegelisahan petani. Prioritas kami sekarang mencari solusi agar tebu petani bisa dialihkan ke pabrik gula lain di sekitar Blora. Sudah ada tim yang dibentuk oleh Bulog untuk mendata tebu yang siap panen dan akan dialirkan ke pabrik lain,” ujar Emilia.

Terkait desakan subsidi transportasi, Emilia menyebut pihaknya masih harus berkoordinasi dengan tingkat pusat.

Sementara itu, perwakilan Bulog, Andin, berjanji akan segera membawa tuntutan massa ke Jakarta dan memberikan jawaban pasti dalam kurun waktu dua pekan ke depan.

Janji ini ditanggapi dingin oleh massa aksi. Exy Wijaya memberikan peringatan keras bahwa mereka akan kembali datang dengan jumlah massa yang jauh lebih besar jika dalam dua minggu ke depan janji tersebut tetap tidak terwujud.

Sebagai informasi, operasional PG GMM praktis mati total sejak Oktober 2025 akibat kerusakan mesin boiler yang tak kunjung tuntas diperbaiki sejak Mei 2025.

Laporan: Tim

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version