Tinta Otentik.co – Perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih membawa angin baru di panggung diplomasi internasional Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
Diplomat senior yang akrab disapa Tata ini dipercaya mengisi posisi pucuk di Gedung Pejambon menggantikan Sugiono yang dialihkelola mengemban amanah baru sebagai Menko PMK.
Pengangkatan tersebut dikukuhkan melalui pengucapan sumpah jabatan yang dipimpin langsung oleh Kepala Negara di hadapan jajaran pejabat tinggi negara.
“Bahwa saya, akan setia kepada UUD Negara RI Tahun 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi dharma bakti saya kepada bangsa dan negara.
Bahwa saya, dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab,” kata Prabowo memandu sumpah jabatan yang diikuti oleh Tata.
Pria kelahiran Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971 ini membawa latar belakang akademik dan portofolio profesional yang sangat solid.
Tata menuntaskan pendidikan sarjana (Bachelor’s Degree) bidang Ilmu Ekonomi di University of Buckingham, Inggris (1991–1993), sebelum meraih gelar Master of Business Administration (MBA) di University of Leicester, Inggris (1993–1994).
Memperkuat fondasi konseptualnya dalam politik global, ia juga menyabet gelar Magister Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (1997–1998).
Menariknya, sebelum mendedikasikan hidupnya untuk korps diplomatik, Tata sempat meniti karier di dunia perbankan nasional sebagai Financial Institutions Officer di Bank Dagang Negara Indonesia sepanjang 1996 hingga 1997.
Rekam Jejak Panjang
Pengabdian Tata di Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) bermula dari medan negosiasi perdagangan internasional.
Ia bertugas sebagai Sekretaris Kedua sekaligus Negosiator Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa (2001–2004).
Spesialisasi multilateralnya kian teruji saat ia dipercaya memegang sejumlah posisi kunci:
- 2005–2008: Mengemban posisi Wakil Direktur Bidang Pertanian dan Komoditas pada Direktorat Jenderal Multilateral Kemlu RI.
- 2008–2012: Bertugas sebagai Konselor pada PTRI untuk PBB di New York yang membidangi Isu Ekonomi dan Pembangunan di Komite Kedua Majelis Umum PBB serta ECOSOC, sekaligus menjadi negosiator bagi Kelompok 77 dan China.
- 2010–2011: Dipercaya menjabat Penasihat Bidang Ekonomi dan Negara-negara Kurang Berkembang untuk Presiden Sidang ke-65 Majelis Umum PBB.
- 2014–2019: Menjadi garda terdepan diplomasi publik sebagai Juru Bicara Resmi Kemlu RI.
- 2019–2021: Menjabat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Prancis, Andorra, Monako, serta Delegasi Tetap RI untuk UNESCO.
- 2021–2024: Menjabat Wakil Tetap RI untuk PBB di New York. Dalam periode ini, Tata mengemban amanah strategis sebagai Wakil Presiden ECOSOC (2023), Wakil Tetap RI pertama untuk International Seabed Authority (ISA) di Jamaika (2023), serta Wakil Ketua Komite PBB untuk Hak-Hak Rakyat Palestina (2024).
Perjalanan panjang di kancah diplomasi internasional tersebut mengantarkan Tata ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada Oktober 2024.
Dua tahun berselang, pada Oktober 2026, keahlian dan rekam jejak tanpa cela itu membawa Arrmanatha Nasir ke puncak kepemimpinan sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.
