​Lewat Kopdes Merah Putih Petani Bisa Rebut Keuntungan Rp313 T dari Tengkulak

0

Tinta Otentik.co – Kementerian Pertanian (Kementan) memproyeksikan potensi lompatan kesejahteraan bagi para petani nasional melalui kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih).

Keberadaan lembaga ekonomi warga di tingkat desa ini dinilai menjadi kunci utama untuk meruntuhkan dominasi perantara atau tengkulak yang selama ini menggerogoti margin keuntungan sektor pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan bahwa skema Kopdes Merah Putih dirancang untuk merampingkan alur tata niaga komoditas pangan yang selama ini terlalu panjang dan tidak efisien.

Alur distribusi yang mulanya melintasi hingga delapan tingkatan rantai pasok bakal dipangkas secara drastis menjadi hanya tiga tahapan ringkas: dari petani ke koperasi, lalu langsung menjangkau konsumen.

“Ini koperasi sebenarnya kalau sektor pertanian, ini adalah fungsi utamanya memotong supply chain rantai pasok. Itu dari delapan menjadi tiga. Jadi dari delapan rangkaian menjadi tiga. Tiga itu dari petani ke koperasi, koperasi ke masyarakat,” ujar Amran di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Pemangkasan alur distribusi ini bukan sekadar efisiensi logistik, melainkan rekonfigurasi pembagian nilai ekonomi.

Amran membeberkan, kalkulasi internal Kementan mencatat bahwa nilai keuntungan yang selama ini diserap oleh para perantara (middleman) dari sembilan komoditas pangan utama mencapai angka fantastis, yakni Rp313 triliun.

Dengan hadirnya Kopdes Merah Putih, porsi keuntungan raksasa yang dulunya dinikmati perantara dapat dialihkan kembali untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menaikkan pendapatan petani di hilir.

“Nah kami pernah hitung, sembilan komoditas itu nilainya untuk middleman dia dapatkan keuntungan Rp 313 triliun. Nah katakanlah koperasi dapat 50 triliun saja, artinya apa? Ada Rp 263 triliun itu bisa dinikmati petani, harga komoditas bisa naik, kemudian konsumen yang daya belinya naik. Konsumen yang biasanya beli 1 kilo bisa menjadi 1,5 kilo. Itu yang diinginkan Bapak Presiden,” terang Amran.

Selain merevolusi alur penjualan hasil tani, Kopdes Merah Putih ditargetkan menjadi simpul pelayanan terpadu bagi pemenuhan sarana produksi pertanian (saprodi).

Koperasi ini akan berperan sebagai titik distribusi pupuk bersubsidi sehingga petani tidak lagi mengalami kendala jarak dan aksesibilitas untuk mendapatkan pupuk.

Di sisi lain, koperasi desa ini juga berfungsi sebagai penyerah atau penampung resmi (offtaker) hasil panen warga, sekaligus distributor produk lokal.

Kehadiran offtaker di tingkat desa dinilai menjadi jawaban atas kendala jarak tempuh gudang penampungan resmi seperti Bulog yang sering kali terlalu jauh dari lokasi persawahan.

“Yang kedua, menjual seperti dikatakan tadi Pak Menko, menjual gabah itu langsung ke koperasi, karena biasanya gudang Bulog kita jaraknya 50 kilo dari sawah,” katanya.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version