TintaOtentik.co – Ketegangan geopolitik global kembali membara setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara sepihak resmi menutup total jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Meski blokade rute vital energi dunia ini memicu kepanikan global, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa ketahanan stok minyak dalam negeri saat ini berada dalam posisi yang aman.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Arif Havas Oegroseno, mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengantisipasi risiko tersebut melalui diversifikasi interkoneksi dagang.
RI kini telah mengamankan banyak pasokan minyak mentah dari sejumlah negara di kawasan Afrika, yang jalur distribusinya sama sekali tidak bersinggungan dengan Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Indonesia juga tengah membuka keran negosiasi dengan Venezuela serta beberapa negara Amerika Latin lainnya untuk memperkuat cadangan minyak dan gas bumi (migas) nasional.
“Kalau mengenai masalah minyak, jadi strategi kita itu adalah sekarang ini kita mendapatkan pasokan dari kawasan yang tidak memerlukan lewat Hormuz. Jadi kita banyak kerja sama sekarang dengan Aljazair, Nigeria, Angola, di Afrika. Jadi banyak pasokan minyak dari Afrika,” terang Arif Havas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Walau pasokan fisik minyak dalam negeri terjamin, Wamenlu menekankan bahwa pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap guncangan makroekonomi global yang dipastikan bakal mengekor pasca-penutupan selat strategis tersebut.
Bagaimanapun, sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia yang dikapalkan lewat jalur laut bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz. Penutupan total ini diproyeksikan akan melambungkan harga minyak mentah ke level tertinggi.
“Ya, kalau itu makroekonomi global, ya, kita tinggal monitor makroekonomi global itu seperti apa kondisinya. Kita memonitor banyak aspek karena dari sisi bisnis spesifik, yang banyak terdampak kan migas, terus plastik, lalu pupuk, ya. Ini berdampak global, ya, enggak cuma hanya di suatu kawasan tertentu,” papar Arif menjabarkan efek domino blokade tersebut.
Militer Iran Tembak Kapal Dagang, AS Lancarkan Serangan Balasan
Sebelumnya, situasi di Timur Tengah memanas menyusul keputusan sepihak IRGC yang mengunci rapat pintu keluar-masuk Selat Hormuz bagi seluruh armada maritim internasional hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ekstrem ini diambil pasca-eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia mencapai titik krusial.
Melansir laporan dari Kantor Berita Mehr, kesatuan bersenjata IRGC mengonfirmasi telah melepaskan tembakan taktis dan berhasil menghantam dua kapal asing yang dituding mencoba menerobos pembatasan jalur laut tersebut secara ilegal.
Kendati demikian, jenis kapal, bendera negara, maupun total kerugian fisik akibat hantaman tersebut belum dibuka secara transparan kepada publik.
Markas Besar IRGC menegaskan bahwa ruang perairan tersebut kini sudah berstatus zona bahaya dan tidak lagi kondusif bagi aktivitas pelayaran sipil ataupun korporasi komersial.
“Mulai saat ini, karena ketidakamanan di kawasan, Selat Hormuz dinyatakan tertutup bagi lalu lintas segala jenis kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial, dan lalu lintas apa pun akan terdampak,” demikian bunyi maklumat resmi dari Markas Besar IRGC, seperti dikutip dari Tasnim News, Kamis.
IRGC juga melayangkan ultimatum keras kepada seluruh operator dan otoritas pelayaran global agar mematuhi instruksi pembekuan jalur ini.
Pihaknya mengancam tidak akan segan-segan melepaskan rudal militer langsung ke arah kapal yang kedapatan nekat melintas.
“Dua kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz secara ilegal telah dihantam. Kami memperingatkan agar tidak ada kapal yang berangkat dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman. Pendekatan apa pun ke Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh,” tegas Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan tertulisnya.
Bersamaan dengan ketegangan tersebut, rentetan ledakan dahsyat dilaporkan mengguncang beberapa titik di wilayah Hormozgan dan kawasan selatan Iran.
Pihak Pentagon mengeklaim bahwa rentetan dentuman tersebut berasal dari gelombang serangan udara baru yang diluncurkan oleh militer Amerika Serikat ke basis pertahanan Iran.
Merespons serangan udara AS tersebut, pihak Teheran langsung melabeli aksi Washington sebagai “serangan tanpa provokasi”.
