Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    Intip Tren Kasus DBD di Tangsel: Dari Tahun 2022 Sampai Juni 2026

    26 June 2026 No Comments

    Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin, Jauh dari Kebangsaan!

    26 June 2026 No Comments

    Kejagung-Satgas PKH Berhasil Rebut Kawasan Sawit dan Pertambangan Senilai Rp379,2 Triliun

    26 June 2026 No Comments

    Rupiah Melemah: Indonesia Untung Triliunan, Tapi Duit Malah Lari Keluar US343 Miliar?

    25 June 2026 No Comments

    Perbaik 2.501 Titik PJU, Dishub Tangsel Terus Berkoordinasi ke PLN Soal Kwh Bermasalah

    25 June 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Home»Nasional»Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin, Jauh dari Kebangsaan!

Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin, Jauh dari Kebangsaan!

0
By tintaotentik.co on 26 June 2026 Nasional, Politik

TintaOtentik.Co – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masih belum terwujudnya keadilan dan kemakmuran di Indonesia meski negara telah memasuki usia 80 tahun kemerdekaan.

“Delapan puluh tahun kita merdeka, keadilan dan kemakmurannya belum terwujud,” kata Dedi dikutip dari tayangan Humas IPDN.

Menurut Dedi, persoalan tersebut berakar pada tata kelola pemerintahan yang lebih mengutamakan kepuasan administrasi dibandingkan kepuasan masyarakat.

Dedi mengkritik pola pikir birokrasi yang dinilainya lebih banyak membahas tunjangan kinerja (tukin) dibandingkan cita-cita besar untuk memajukan bangsa.

“Hampir tidak ada idealisme tentang cita-cita besar. Yang dibicarakan dalam diskusi bukan bagaimana membangun bangsa ke depan, tetapi soal tukin,” ujarnya.

Menurutnya, orientasi yang berlebihan terhadap tunjangan kinerja telah memicu degradasi birokrasi.

KDM ingin IPDN ke depan bukan hanya pusat akademis di dalam pagar, melainkan menjadi motor penggerak perbaikan lingkungan di luar pagar kampus. Misalnya, dalam mengatasi masalah ketertiban, kebersihan sampah, hingga keselamatan lalu lintas khususnya wilayah aglomerasi Jatinangor.

“Sudah semestinya mahasiswa IPDN menjadi pemandu RT yang ada di sini, RW yang ada di sini, kepala desa yang ada di sini. Kenapa tidak? Sehingga ketika nanti IPDN itu praktik, mereka langsung berada di wilayah nyata,” ucapnya.

KDM optimistis dengan melibatkan para praja menjadi pemandu tata kelola pemerintahan dari tingkat yang paling mendasar, maka akan mewujudkan perubahan ekosistem lingkungan yang lebih baik.

“Di depan sana ada orang yang yang dibunuh, di sebelah sana ada sepeda motor yang dicuri, di sebelah sini ada sepeda motor yang dirampok. Di sebelah sini ada demonstrasi yang melahirkan korban jiwa. Maka praktik yang sebenarnya adalah dalam lingkungan. Ini penting,” katanya.

Jika itu dilakukan, maka di lingkungan sekitar IPDN tidak akan ada lagi kasus pencurian, perampokan, atau pembunuhan. Bahkan, dapat mewujudkan zero accident lalu lintas yang sempat terjadi di depan area kampus IPDN. “Termasuk tidak ada sampah berserakan karena IPDN mempelopori kebersihan di lingkungannya,” ucapnya.

Menurut KDM, karakter pemimpin yang solutif dan inovatif justru lahir ketika para siswa didik terbiasa dihadapkan pada kesulitan dan dinamika masyarakat yang sebenarnya.

Sebab, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah menjembatani teori di atas kertas dengan substansi di lapangan.

KDM menilai, bilamana kolaborasi antara kampus kedinasan dan lingkungan sekitar ini berjalan optimal, Jatinangor bisa menjelma menjadi kawasan percontohan yang ideal.

“Tidak ada orang yang pintar hanya di sekolah. Tidak boleh juga orang hanya bangga dengan sekolahnya. Sekolah terbesar itu adalah semesta,” kata dia.

Lebih lanjut, KDM juga mengingatkan pentingnya semangat primordialisme yang positif dalam arti menjaga kebanggaan identitas bangsa di tengah dunia global.

Dia mencontohkan sejumlah negara, seperti Cina dan Amerika yang mendahulukan kepentingan bangsa mereka.

Menurut dia, dengan banyaknya suku di Indonesia justru memiliki kesatuan emosi dan energi yang kuat. Namun, dari seluruh perspektif yang ada tersebut harus menomorsatukan konsistensi dan mengubur keangkuhan.

“Setiap perspektif negara pasti memiliki romantisme masa lalu dan menjadikan masa lalu menjadi spirit. Membangun energi, membangun masa depan,” katanya.

Laporan: bagas

Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin Jauh dari Kebangsaan KDM hari IPDN KDM Sindir Birokrasi KDM Sindir Birokrat TintaOtentik TintaOtentik.Co
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKejagung-Satgas PKH Berhasil Rebut Kawasan Sawit dan Pertambangan Senilai Rp379,2 Triliun
Next Article Intip Tren Kasus DBD di Tangsel: Dari Tahun 2022 Sampai Juni 2026
tintaotentik.co
  • Website

Related Posts

Intip Tren Kasus DBD di Tangsel: Dari Tahun 2022 Sampai Juni 2026

26 June 2026

Kejagung-Satgas PKH Berhasil Rebut Kawasan Sawit dan Pertambangan Senilai Rp379,2 Triliun

26 June 2026

Rupiah Melemah: Indonesia Untung Triliunan, Tapi Duit Malah Lari Keluar US343 Miliar?

25 June 2026

Perbaik 2.501 Titik PJU, Dishub Tangsel Terus Berkoordinasi ke PLN Soal Kwh Bermasalah

25 June 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Gaya Hidup

Intip Tren Kasus DBD di Tangsel: Dari Tahun 2022 Sampai Juni 2026

By tintaotentik.co26 June 20260

TintaOtentik.Co — Grafik fluktuasi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tangerang Selatan kembali menegaskan…

 

 

 

Dedi Mulyadi Sindir Mental Birokrat Pikirannya Hanya Tukin, Jauh dari Kebangsaan!

26 June 2026

Kejagung-Satgas PKH Berhasil Rebut Kawasan Sawit dan Pertambangan Senilai Rp379,2 Triliun

26 June 2026

Rupiah Melemah: Indonesia Untung Triliunan, Tapi Duit Malah Lari Keluar US343 Miliar?

25 June 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.