TintaOtentik.Co – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, membantah keras anggapan bahwa Selat Hormuz telah ditutup sepenuhnya.
Ia menegaskan bahwa jalur pelayaran krusial tersebut masih beroperasi, namun dengan penerapan prosedur keamanan ekstra yang disesuaikan dengan kondisi masa perang.
Dalam keterangannya kepada awak media di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Boroujerdi menjelaskan bahwa status selat tidak ditutup. “Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kapal-kapal yang bersedia mematuhi protokol lalu lintas khusus yang diberlakukan selama situasi konflik ini dapat melintas tanpa gangguan.
Menurutnya, Iran telah memegang peran sebagai penjaga stabilitas di jalur perdagangan energi dunia ini selama ratusan tahun.
Ia juga menekankan bahwa keamanan selat harus menjamin kepentingan seluruh negara, tanpa ada pihak yang memonopoli atau memanfaatkannya demi agenda sepihak.
Di sisi lain, Boroujerdi menyoroti keterlibatan Amerika Serikat sebagai pemicu utama ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kekhawatiran keamanan pelayaran.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah dan kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” tegasnya.
Pernyataan diplomatik ini datang di tengah situasi geopolitik yang memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelumnya sempat melontarkan pernyataan mengenai penutupan selat. Kebijakan tersebut merespons operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, yang dilaporkan telah menghantam wilayah Teheran dan menelan korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Dampak pada Kapal Tanker Indonesia
Ketegangan di Teluk Persia ini memberikan dampak nyata bagi operasional logistik energi Indonesia.
Saat ini, dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tidak dapat melanjutkan pelayaran akibat situasi yang belum menentu.
Dua armada tersebut adalah Pertamina Pride, yang telah menyelesaikan proses pengisian kargo di Ras Tanura, Arab Saudi, serta Gamsunoro, yang tengah melakukan pemuatan bahan bakar di Khor Al Zubair, Irak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah berupaya keras melakukan negosiasi agar kedua kapal tersebut bisa kembali bergerak dengan aman.
“Ada dua kapal kargo Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut saat ini berlabuh di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi,” ungkap Bahlil di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Laporan: Tim
