Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    Lawan Krisis, Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF

    7 April 2026 No Comments

    Putus Rantai Tengkulak, Kata Petani MBG adalah Penyelamat

    7 April 2026 No Comments

    Ketegangan Global dan Krisis Energi Jadi ‘Bahan Bakar’ Penguatan Harga CPO 2026

    7 April 2026 No Comments

    Dugaan Oknum “Bekingi” PKL Pasar Serpong, Pilar Saga: Kita Sanksi Berat!

    7 April 2026 No Comments

    Fasilitas Puskesmas dan RSU di Tangsel Jangan Sampe Jadi Pilihan Terakhir Masyarakat, Kenapa?

    6 April 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Beranda » Ekonomi
Lawan Krisis, Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF (FOTO: Dok/Istimewa)

Lawan Krisis, Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF

0
By tintaotentik.co on 7 April 2026 Ekonomi, Internasional, Nasional, Politik

TintaOtentik.co – Pemerintah Indonesia secara tegas memilih jalur mandiri dalam menghadapi tantangan ekonomi global dengan menolak saran Dana Moneter Internasional (IMF).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Indonesia enggan menerapkan kebijakan pengetatan belanja atau austeritas yang kerap didorong lembaga tersebut saat kondisi krisis.

Berdasarkan pengalaman panjang menangani krisis sejak 1998 hingga pandemi 2020, Purbaya memastikan bahwa formula kebijakan dalam negeri saat ini jauh lebih efektif.

“2025 kemarin kita ubah ke arah yang bagus. Itu bukan karangan saya, tapi dari pengalaman negara Indonesia selama 25 tahun terakhir tambah krisis 1998,” tegas Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).

Alih-alih memangkas anggaran atau “mengencangkan ikat pinggang” ala IMF, pemerintah justru memilih langkah ekspansif dengan mengguyur berbagai sektor melalui insentif fiskal.

“Jadi dalam keadaan seperti itu, ketika ekonomi ada gangguan, kita tidak menerapkan pendekatan IMF, (yaitu) mengencangkan ikat pinggang, memotong semua belanja, dan lain-lain,” terang Purbaya.

Strategi ini dibuktikan dengan alokasi insentif pajak yang masif di tahun 2025. Sektor UMKM menjadi prioritas utama dengan suntikan Rp96,4 triliun, disusul pembebasan PPN bahan pangan pokok senilai Rp77,3 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, dukungan fiskal juga menyasar sektor transportasi sebesar Rp39,7 triliun, pendidikan Rp25,3 triliun, serta kesehatan Rp15,1 triliun. Untuk menarik investasi, pemerintah juga mengucurkan Rp7,1 triliun melalui skema tax holiday dan tax allowance.

Langkah ini pun menunjukkan hasil positif pada indikator konsumsi riil. Berdasarkan Mandiri Spending Index bulan Februari, aktivitas belanja masyarakat naik ke level 360,7 dengan pertumbuhan penjualan ritel mencapai 6,9 persen.

Sektor otomotif bahkan mencatat lonjakan penjualan mobil hingga 12,2 persen, yang menurut Purbaya menjadi sinyal meningkatnya taraf ekonomi masyarakat.

“Motor juga sempat naik tinggi walaupun agak turun di bulan Februari, tapi kita lihat masih tumbuh positif dan mungkin sebagian pembeli motor sudah kaya, sekarang jadi bergeser ke (mobil). Mudah-mudahan (yang) jadi beli mobil lebih banyak,” ucapnya.

Meski konsumsi listrik industri sedikit melandai, optimisme tetap terjaga seiring tumbuhnya konsumsi semen domestik sebesar 5,3 persen yang menandakan geliat konstruksi masih terus berjalan.

APBN 2026 berita ekonomi berita nasional daya beli masyarakat Ekonomi Indonesia IMF Insentif Pajak investasi Kebijakan Fiskal Komisi XI DPR RI Krisis Ekonomi Lawan Krisis Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF Mandiri Spending Index Menteri Keuangan Penjualan Otomotif PPN Bahan Pokok Purbaya Tolak IMF purbaya yudhi sadewa Tax Holiday TintaOtentik UMKM
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticlePutus Rantai Tengkulak, Kata Petani MBG adalah Penyelamat
tintaotentik.co
  • Website

Related Posts

Putus Rantai Tengkulak, Kata Petani MBG adalah Penyelamat

7 April 2026

Ketegangan Global dan Krisis Energi Jadi ‘Bahan Bakar’ Penguatan Harga CPO 2026

7 April 2026

Dugaan Oknum “Bekingi” PKL Pasar Serpong, Pilar Saga: Kita Sanksi Berat!

7 April 2026

Fasilitas Puskesmas dan RSU di Tangsel Jangan Sampe Jadi Pilihan Terakhir Masyarakat, Kenapa?

6 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Ekonomi

Lawan Krisis, Purbaya Pilih Guyur Insentif Ketimbang Ikuti Aturan IMF

By tintaotentik.co7 April 20260

TintaOtentik.co – Pemerintah Indonesia secara tegas memilih jalur mandiri dalam menghadapi tantangan ekonomi global dengan…

Putus Rantai Tengkulak, Kata Petani MBG adalah Penyelamat

7 April 2026

Ketegangan Global dan Krisis Energi Jadi ‘Bahan Bakar’ Penguatan Harga CPO 2026

7 April 2026

Dugaan Oknum “Bekingi” PKL Pasar Serpong, Pilar Saga: Kita Sanksi Berat!

7 April 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.