TintaOtentik.Co – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa gemas ketika tahu jumbonya duit perbankan yang parkir di SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), atau surat utang yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI).
Menkeu Purbaya menilai, derasnya aliran likuiditas perbankan ke SBI, membuat likuiditas mengetat. Berdampak kepada ekonomi riil tidak bisa bergerak optimal.
“Ketidaksinkronan antara kebijakan fiskal dan moneter membuat peredaran uang di masyarakat belum sepenuhnya pulih. Padahal stimulus fiskal telah dijalankan agresif untuk mendorong pertumbuhan,” ungkapnya di Jakarta, dikutip Senin (1/12/2025).
Peredaran uang primer (M0), menurut Menkeu Purbaya, sempat tumbuh negatif dalam beberapa bulan terakhir. Meski sudah mengalami perbaikan, namun kenaikannya belum cukup kuat untuk menopang percepatan pemulihan ekonomi.
“Sekitar Rp1.000 triliun duit bank, saat ini, parkir di SRBI dan instrumen operasi pasar terbuka lainnya. Likuiditas yang seharusnya mengalir ke sektor produktif, menjadi tertahan,” terangnya.
Indonesia pernah punya ekonom yang out of the box bernama Rizal Ramli. Nah, mazhab ekonomi yang dijunjung Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, serta Menko Kemaritiman era Presiden Jokowi itu, sepertinya seirama dengan Menkeu Purbaya.
Ekonom senior yang meninggal pada 2 Januari 2024 itu, sangat menyayangkan banyaknya perbankan yang berburu surat utang negara disingkat SUN.
Tentu saja, karena SUN memberikan imbal balik (yield) alias kupon yang menggiurkan. Bisa 2 persen lebih tinggi ketimbang deposito. Selain itu, aman karena SUN dijamin negara.
Alhasil, bank lupa akan fungsinya sebagai lembaga intermediasi alias penyalur kredit yang berdampak kepada percepatan perekonomian. Ya, karena itu tadi, duitnya banyak diparkir untuk borong SUN. Intinya, bank tak usah kerja keras, cuan datang sendiri.
Kini situasinya sama, bank memlik untuk memborong surat utang yang diterbitkan Bank Indonesia yakni SRBI. Itu bisa dicermati dari rendahnya pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 hanya 7,36 persen, ketimbang Oktober 2024 yang masih 7,70 persen.
Alhasil, uang yang beredar menjadi terbatas, berefek kepada seretnya perekonomian nasional. Kondisi ini yang ingin diputar oleh Menkeu Purbaya.
Laporan: Tim
