Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    75 Persen Kebakaran Diakibatkan Arus Pendek, Damkar Tangsel Berikan 10 Apar ke Warga Parigi

    14 July 2026 No Comments

    Alarm Kerapuhan Tata Kelola PBNU: Pakar Peringatkan Potensi Infiltrasi Kepentingan Asing

    14 July 2026 No Comments

    Modus Bansos Palsu, Ratusan Petani Jember Tiba-Tiba Ditagih Utang Bank Rp41,4 Miliar!

    14 July 2026 No Comments

    Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diserahkan ke Kejagung, KPK Minta Publik Ikut Mengawal

    14 July 2026 No Comments

    DPR Tepis Isu Tolak RUU Perampasan Aset: Wong Udah 20 Kali Rapat

    14 July 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Home»Ekonomi»Rupiah Kembali Pimpin Mata Uang Paling Kuat di Asia

Rupiah Kembali Pimpin Mata Uang Paling Kuat di Asia

0
By Irfan Kurniawan on 12 September 2025 Ekonomi, Internasional, Nasional, Politik



TintaOtentik.Co – Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, jumat (12/9/2025). Menariknya Rupiah kembali memimpin sebagai mata uang yang paling kuat di Asia.

Melansir data Refinitiv, per pukul 09.20 WIB, rupiah tengah mengalami penguatan sebesar 0,30% pada posisi Rp16.405/US$. Menjadikan mata uang garuda terkuat di kawasan Asia, yang diikuti oleh mata uang negara tetangga, ringgit Malaysia yang turut menguat 0,26% di level MYR 4,208/US$.

Dalam tiga hari terakhir, rupiah selalu menjadi mata uang terkuat di Asia di sesi awal perdagangan.

Dolar Taiwan juga mengalami penguatan sebesar 0,17% di posisi TWD 30,229/US$, serta baht Thailand dan won Korea yang masing-masing terapresiasi sebesar 0,09% dan 0,02%.

Disisi lain, terdapat beberapa mata uang Asia yang justru melemah terhadap dolar AS.

Yen Jepang tercatat menjadi yang paling tertekan di kawasan Asia, dengan pelemahan sebesar 0,14% di level JPY 147,39/US$, diikuti oleh peso Filpina melemah 0,08% di posisi PHP 57,115/US$.

Dolar Singapura, dan Rupee India sama-sama tertekan 0,07% di level SGD 1,281/US$, dan INR 88,307/US$.

Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan hari ini, tentu dipengaruhi oleh pengaruh indeks dolar AS (DXY).

DXY terpantau tengah mengalami apresiasi 0,10% di level 97,627, setelah pada perdagangan kemarin, Kamis (11/9/2025) DXY ditutup melemah 0,25%.

Pelemahan terjadi setelah rilis data ekonomi AS yang memperlihatkan kombinasi inflasi yang meningkat dan pasar tenaga kerja yang makin rapuh.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,4% pada Agustus, lebih tinggi dibanding 0,2% pada Juli.

Secara tahunan, inflasi tembus 2,9% atau kenaikan terbesar dalam tujuh bulan terakhir. Namun, sorotan pasar justru tertuju pada lonjakan klaim tunjangan pengangguran yang melonjak 27.000 menjadi 263.000, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Eugene Epstein, Head of Trading and Structured Products Moneycorp di New Jersey, menilai data inflasi ini sebenarnya tidak cukup mengubah arah kebijakan The Fed.

“Semua orang tentu berharap CPI lebih jinak, tapi nyatanya data ini tidak benar-benar mengubah arah suku bunga The Fed,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Senada, Josh Jamner, analis strategi investasi senior ClearBridge Investments, menekankan bahwa pasar tenaga kerja kini lebih penting dari inflasi. “Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rilis CPI justru tertutupi oleh data pengangguran. Lonjakan klaim tunjangan pengangguran menjadi sinyal bahwa The Fed akan tetap fokus pada mandat lapangan kerja,” jelasnya.

Dari sisi ekspektasi pasar, kontrak berjangka Fed Funds kini menunjukkan peluang 91% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC pekan depan, dengan peluang 9% untuk pemangkasan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin.

Laporan: Tim

Dolar AS Indeks Dolar Inflasi Kebijakan Moneter Mata Uang Asia Nilai Tukar Pasar Tenaga Kerja Pelemahan Mata Uang Rupiah TintaOtentik.Co Valuta Asing
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleDPRD Tangsel Serahkan Raperda Fasilitas Penyelenggaraan Pesantren ke Wali Kota
Next Article Usai Diserang Rudal Israel, Prabowo Bertolak ke Qatar Beri Dukungan Langsung
Irfan Kurniawan

Related Posts

75 Persen Kebakaran Diakibatkan Arus Pendek, Damkar Tangsel Berikan 10 Apar ke Warga Parigi

14 July 2026

Alarm Kerapuhan Tata Kelola PBNU: Pakar Peringatkan Potensi Infiltrasi Kepentingan Asing

14 July 2026

Modus Bansos Palsu, Ratusan Petani Jember Tiba-Tiba Ditagih Utang Bank Rp41,4 Miliar!

14 July 2026

Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diserahkan ke Kejagung, KPK Minta Publik Ikut Mengawal

14 July 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Gaya Hidup

75 Persen Kebakaran Diakibatkan Arus Pendek, Damkar Tangsel Berikan 10 Apar ke Warga Parigi

By tintaotentik.co14 July 20260

TintaOtentik.Co – Pembinaan REDKAR Tangsel kembali menjadi fokus Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Program itu berlangsung…

 

 

 

 

 

Alarm Kerapuhan Tata Kelola PBNU: Pakar Peringatkan Potensi Infiltrasi Kepentingan Asing

14 July 2026

Modus Bansos Palsu, Ratusan Petani Jember Tiba-Tiba Ditagih Utang Bank Rp41,4 Miliar!

14 July 2026

Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diserahkan ke Kejagung, KPK Minta Publik Ikut Mengawal

14 July 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.