Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    Meski Sudah Dikritik Bertentangan UU ASN, Walikota Tangsel Tetap Ingin Perpanjang Jabatan Sekda

    18 May 2026 No Comments

    Tuntut Pembersihan Miras dan Parkir Liar, Mahasiswa Geruduk Kantor Wali Kota Tangsel

    18 May 2026 No Comments

    G2G Berjalan Mulus, Indonesia Siap Pasok 500 Ribu Ton Pupuk ke Australia

    18 May 2026 No Comments

    Bukti Kasus Chromebook Solid, DPR Minta Hakim Tak Terpancing Opini Luar Sidang

    18 May 2026 No Comments

    Laporan BPKP Temukan Sejumlah Pihak Bermasalah, Prabowo: Jika Terindikasi Korupsi, Hukum!

    16 May 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Beranda » Ekonomi

Rupiah Kembali Pimpin Mata Uang Paling Kuat di Asia

0
By Irfan Kurniawan on 12 September 2025 Ekonomi, Internasional, Nasional, Politik



TintaOtentik.Co – Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, jumat (12/9/2025). Menariknya Rupiah kembali memimpin sebagai mata uang yang paling kuat di Asia.

Melansir data Refinitiv, per pukul 09.20 WIB, rupiah tengah mengalami penguatan sebesar 0,30% pada posisi Rp16.405/US$. Menjadikan mata uang garuda terkuat di kawasan Asia, yang diikuti oleh mata uang negara tetangga, ringgit Malaysia yang turut menguat 0,26% di level MYR 4,208/US$.

Dalam tiga hari terakhir, rupiah selalu menjadi mata uang terkuat di Asia di sesi awal perdagangan.

Dolar Taiwan juga mengalami penguatan sebesar 0,17% di posisi TWD 30,229/US$, serta baht Thailand dan won Korea yang masing-masing terapresiasi sebesar 0,09% dan 0,02%.

Disisi lain, terdapat beberapa mata uang Asia yang justru melemah terhadap dolar AS.

Yen Jepang tercatat menjadi yang paling tertekan di kawasan Asia, dengan pelemahan sebesar 0,14% di level JPY 147,39/US$, diikuti oleh peso Filpina melemah 0,08% di posisi PHP 57,115/US$.

Dolar Singapura, dan Rupee India sama-sama tertekan 0,07% di level SGD 1,281/US$, dan INR 88,307/US$.

Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan hari ini, tentu dipengaruhi oleh pengaruh indeks dolar AS (DXY).

DXY terpantau tengah mengalami apresiasi 0,10% di level 97,627, setelah pada perdagangan kemarin, Kamis (11/9/2025) DXY ditutup melemah 0,25%.

Pelemahan terjadi setelah rilis data ekonomi AS yang memperlihatkan kombinasi inflasi yang meningkat dan pasar tenaga kerja yang makin rapuh.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,4% pada Agustus, lebih tinggi dibanding 0,2% pada Juli.

Secara tahunan, inflasi tembus 2,9% atau kenaikan terbesar dalam tujuh bulan terakhir. Namun, sorotan pasar justru tertuju pada lonjakan klaim tunjangan pengangguran yang melonjak 27.000 menjadi 263.000, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Eugene Epstein, Head of Trading and Structured Products Moneycorp di New Jersey, menilai data inflasi ini sebenarnya tidak cukup mengubah arah kebijakan The Fed.

“Semua orang tentu berharap CPI lebih jinak, tapi nyatanya data ini tidak benar-benar mengubah arah suku bunga The Fed,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Senada, Josh Jamner, analis strategi investasi senior ClearBridge Investments, menekankan bahwa pasar tenaga kerja kini lebih penting dari inflasi. “Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rilis CPI justru tertutupi oleh data pengangguran. Lonjakan klaim tunjangan pengangguran menjadi sinyal bahwa The Fed akan tetap fokus pada mandat lapangan kerja,” jelasnya.

Dari sisi ekspektasi pasar, kontrak berjangka Fed Funds kini menunjukkan peluang 91% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC pekan depan, dengan peluang 9% untuk pemangkasan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin.

Laporan: Tim

Dolar AS Indeks Dolar Inflasi Kebijakan Moneter Mata Uang Asia Nilai Tukar Pasar Tenaga Kerja Pelemahan Mata Uang Rupiah TintaOtentik.Co Valuta Asing
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleDPRD Tangsel Serahkan Raperda Fasilitas Penyelenggaraan Pesantren ke Wali Kota
Next Article Usai Diserang Rudal Israel, Prabowo Bertolak ke Qatar Beri Dukungan Langsung
Irfan Kurniawan

Related Posts

Meski Sudah Dikritik Bertentangan UU ASN, Walikota Tangsel Tetap Ingin Perpanjang Jabatan Sekda

18 May 2026

Tuntut Pembersihan Miras dan Parkir Liar, Mahasiswa Geruduk Kantor Wali Kota Tangsel

18 May 2026

G2G Berjalan Mulus, Indonesia Siap Pasok 500 Ribu Ton Pupuk ke Australia

18 May 2026

Bukti Kasus Chromebook Solid, DPR Minta Hakim Tak Terpancing Opini Luar Sidang

18 May 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Politik

Meski Sudah Dikritik Bertentangan UU ASN, Walikota Tangsel Tetap Ingin Perpanjang Jabatan Sekda

By tintaotentik.co18 May 20260

TintaOtentik.Co – Sempat dikritik bertentangan dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN), Walikota Tangerang Selatan, Benyamin…

 

 

 

Tuntut Pembersihan Miras dan Parkir Liar, Mahasiswa Geruduk Kantor Wali Kota Tangsel

18 May 2026

G2G Berjalan Mulus, Indonesia Siap Pasok 500 Ribu Ton Pupuk ke Australia

18 May 2026

Bukti Kasus Chromebook Solid, DPR Minta Hakim Tak Terpancing Opini Luar Sidang

18 May 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.