Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    Antisipasi Dampak El Nino, 33 Juta Warga Desil 1-4 Siap Terima Bansos Beras 30 Kg

    12 September 2026 No Comments

    Anti Neoliberal, RUU Reforma Agraria Mengandung Amanat Pasal 33 UUD 1945

    11 September 2026 No Comments

    Harga Ditentukan Appraisal Konsultan, Pembebasan Lahan PSEL Tangsel Bakal Dibicarakan ke Pemilik Tanah

    11 September 2026 No Comments

    Gandeng Salah Satu PT, Karang Taruna Serpong Bangun Kerja Sama Tenaga Kerja ke Luar Negeri

    11 September 2026 No Comments

    Usut Bancakan Proyek, KPK Geledah Dinas PUPR dan PBJ Muara Enim

    11 September 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Home»Ekonomi»Kredibilitas Fiskal Picu Anxiety Investor, Chatib Basri Bongkar Penyebab Rupiah Melemah
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri (FOTO: Dok/Istimewa)

Kredibilitas Fiskal Picu Anxiety Investor, Chatib Basri Bongkar Penyebab Rupiah Melemah

0
By tintaotentik.co on 11 June 2026 Ekonomi, Internasional, Nasional, Politik

TintaOtentik.Co – Tren fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menjadi sorotan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kendati indikator fundamental ekonomi domestik diklaim masih kokoh, tekanan yang tiada henti terhadap mata uang Garuda memicu tanda tanya besar mengenai jangkar utama penyebab pelemahan tersebut.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, membeberkan analisis mendalam bahwa koreksi tajam pada nilai tukar rupiah tidak boleh hanya dituduhkan pada faktor fundamental klasik, seperti neraca ekspor-impor atau angka pertumbuhan ekonomi.

Melalui pendekatan data kausalitas, Chatib menemukan bahwa cara pandang pasar terhadap risiko pengelolaan keuangan negar atau kredibilitas fiskal, justru memegang andil yang jauh lebih dominan.

“Yang bisa menjelaskan pelemahan Rupiah faktor yang paling besar itu adalah risiko dari fiskal, di mana sekitar 23 persen pelemahannya sebetulnya bisa dijelaskan oleh pergerakan Credit Default Swap (CDS),” ungkap Chatib dalam perhelatan Grab Business Forum di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Merujuk pada paparan tersebut, pergerakan rupiah terbukti sangat sensitif terhadap indikator Credit Default Swap (CDS).

Instrumen ini berfungsi sebagai asuransi terhadap risiko gagal bayar utang sekuritas negara sekaligus menjadi cermin tingkat kepercayaan para investor.

Anomali memburuknya angka CDS Indonesia sejatinya telah terdeteksi sejak Januari 2026, jauh sebelum eskalasi konflik geopolitik dunia memanas.

Pemantiknya tidak lain adalah keputusan lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, yang menggeser pandangan (outlook) ekonomi Indonesia menyusul kecemasan pasar terhadap proyeksi defisit anggaran yang mendekati ambang batas tiga persen.

Chatib meluruskan bahwa kondisi Indonesia saat ini sama sekali tidak berada di bibir jurang resesi, mengingat laju pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan masih kokoh menembus angka 4,5 hingga 5 persen.

Namun, kegamangan investor murni dipicu oleh isu keberlanjutan fiskal, yang mendorong mereka memilih bermain aman dengan menarik modal keluar.

“Persoalannya bukan pada resesi karena pertumbuhan kita masih sangat baik menurut standar global, tapi lebih pada kredibilitas fiskal yang menimbulkan anxiety bagi para investor di pasar modal,” jelasnya.

Merespons situasi pelik tersebut, Chatib menilai Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi yang tidak mudah, meski beberapa kebijakan taktis telah dieksekusi.

Otoritas moneter dihadapkan pada pilihan dilematis antara melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing atau mendongkrak daya pikat aset domestik demi membendung arus modal keluar (capital outflow).

Langkah konkret yang telah diambil BI meliputi pengerekan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, serta memperketat regulasi makro dan mikroprudensial dengan memangkas batas FX exposure dari 50.000 dolar AS menjadi 25.000 dolar AS demi meredam ruang spekulasi.

Chatib menekankan pentingnya BI dalam menjaga keseimbangan sensitif antara mengamankan bantalan cadangan devisa (cadev) dan menahan kejatuhan rupiah agar tidak terdepresiasi terlalu dalam.

Intervensi pasar yang dilakukan secara masif tanpa jeda dipandang berisiko tinggi karena dapat menguras cadangan devisa dalam tempo singkat apabila kepercayaan investor tidak kunjung pulih.

“Opsi dari Bank Indonesia adalah menaikkan interest rate untuk membuat aset kita menarik atau melakukan intervensi pasar, namun intervensi yang terlalu banyak akan membuat cadangan devisa turun terus,” urai Chatib.

Kendati demikian, Chatib menenangkan masyarakat dengan memproyeksikan bahwa pelemahan kurs kali ini belum akan memicu lonjakan inflasi yang mengkhawatirkan (imported inflation).

Berdasarkan formulasi hitungan BI, tiap pelemahan satu rupiah hanya menyumbang rambatan inflasi sebesar 0,13.

Dengan asumsi tingkat depresiasi rupiah berada di kisaran delapan persen, efek rembesan terhadap kenaikan harga barang di tingkat konsumen akhir diproyeksikan masih aman di bawah angka satu persen.

Laporan: Tim

Anxiety Ekonomi bank indonesia Chatib Basri Credit Default Swap Defisit Anggaran Dolar AS Ekonomi Indonesia 2026 Kebijakan Fiskal Kredibilitas Fiskal Moody's Outlook Nilai Tukar Rupiah TintaOtentik
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleWaliKota Perpanjang SK Sekda Tangsel, LMND Sentil Gubernur Banten Harusnya Cermat Jika Ada Pelanggaran
Next Article Gebrakan Ekspor Satu Pintu Indonesia Buat Raksasa Sawit di Bursa Singapura Anjlok
tintaotentik.co
  • Website

Related Posts

Antisipasi Dampak El Nino, 33 Juta Warga Desil 1-4 Siap Terima Bansos Beras 30 Kg

12 September 2026

Anti Neoliberal, RUU Reforma Agraria Mengandung Amanat Pasal 33 UUD 1945

11 September 2026

Harga Ditentukan Appraisal Konsultan, Pembebasan Lahan PSEL Tangsel Bakal Dibicarakan ke Pemilik Tanah

11 September 2026

Gandeng Salah Satu PT, Karang Taruna Serpong Bangun Kerja Sama Tenaga Kerja ke Luar Negeri

11 September 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Ekonomi

Antisipasi Dampak El Nino, 33 Juta Warga Desil 1-4 Siap Terima Bansos Beras 30 Kg

By Sulis12 September 20260

TintaOtentik.co – Pemerintah memperpanjang alokasi bantuan sosial (bansos) pangan beras hingga penutupan tahun 2026 sebagai…

 

Anti Neoliberal, RUU Reforma Agraria Mengandung Amanat Pasal 33 UUD 1945

11 September 2026

Harga Ditentukan Appraisal Konsultan, Pembebasan Lahan PSEL Tangsel Bakal Dibicarakan ke Pemilik Tanah

11 September 2026

Gandeng Salah Satu PT, Karang Taruna Serpong Bangun Kerja Sama Tenaga Kerja ke Luar Negeri

11 September 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.