Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    Tak Hujan Deras Sungai Meluap, Warga Gang Pinan Tangsel Desak Pengerukan Dan U-Ditch

    15 April 2026 No Comments

    Dorong Pemanfaatan Listrik Tenaga Surya, Indonesia Targetkan Tak Impor BBM 2 Tahun Kedepan

    15 April 2026 No Comments

    KAI Siap Adopsi Solar Campur Sawit 50%, Dorong Kereta Api Rendah Emisi

    14 April 2026 No Comments

    Warga Serpong Terrace Datangi DPRD, Julham Firdaus Soroti Drainase dan Tata Kelola Lingkungan

    14 April 2026 No Comments

    Kemhan Nyatakan Soal AS Minta Akses Lintasi Ruang Udara RI Belum Miliki Kekuatan Hukum

    13 April 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Beranda » Internasional

Enggan Beri Izin, Amerika Ngarep ke Indonesia Agar Bisa Turunkan Pesawat Mata-mata

0
By Irfan Kurniawan on 10 April 2025 Internasional, Politik

TintaOtentik.Co – Masalah geopolitik yang melibatkan militer memang seringkali terjadi, bahkan Indonesia yang menanut paham non-blok juga seringkali mengalaminya.

Misalnya ketika Indonesia sempat menolak permintaan pesawat mata-mata milik Amerika Serikat yang meminta untuk mendarat di Indonesia.

Menurut Reuters, peristiwa ini terjadi pada tahun 2020 lalu, di mana Indonesia telah menolak permintaah AS tersebut.

Laporan DW, dalam artikel berjudul “Indonesia telah menolak mengizinkan pesawat patroli AS mendarat dan mengisi bahan bakar sebanyak empat kali”, mengungkapkan bahwa, empat pejabat senior Indonesia menolak AS sebanyak empat kali pada tahun 2020.

Pada saat itu, AS meminta untuk mendaratkan pesawat patroli anti-kapal selam maritim P-8 Poseidon AS.

Permintaan AS untuk mendarat adalah untuk mengisi bahan bakar di Indonesia.

Pasalnya, pada saat itu juga Amerika memiliki kebijakan anti-Tiongkok yang cukup agresif, seiring dengan memanasnya situasi di Laut China Selatan.

Sikap Amerika tersebut, dianggap membuat kawasan Asia Tenggara gelisah, sehingga memberikan izin ke AS saja dianggap tidak bisa diterima.

Para pejabat Indonesia mengatakan usulan AS tersebut, yang muncul pada saat Amerika Serikat dan China tengah bersaing untuk memperluas pengaruh mereka di Asia Tenggara.

Tindakan AS ini merupakan kejutan bagi pemerintah Indonesia, yang telah lama menjalankan kebijakan luar negeri yang netral.

Indonesia tidak pernah mengizinkan pasukan asing beroperasi di Indonesia.

Pesawat patroli antikapal selam maritim P-8 Poseidon memainkan peran utama dalam memantau secara ketat aktivitas militer China di Laut Cina Selatan.

Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei semuanya mengklaim kedaulatan atas laut yang kaya sumber daya ini.

Tambahan muatan kapal senilai 3 triliun dollar AS melewati wilayah tersebut setiap tahunnya.

Karena ada tumpang tindih antara klaim kedaulatan China atas Laut Cina Selatan dan klaim Indonesia atas zona ekonomi eksklusif.

Indonesia telah berulang kali mengusir kapal penjaga pantai dan kapal penangkap ikan China dari zona ekonomi eksklusifnya.

Namun pada saat yang sama, hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dan China juga berkembang.

Menteri Luar Negeri Indonesia saat itu, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara bahwa Indonesia tidak ingin memihak dalam konflik.

Karena khawatir dengan meningkatnya ketegangan antara kedua negara adidaya tersebut dan militerisasi Laut Cina Selatan.

“Kami tidak ingin memihak,” katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada bulan September 2020.

“Apa yang ingin ditunjukkan Indonesia adalah bahwa kami siap menjadi mitra Anda,” ujarnya.

Sementara itu, sikap berani Indonesia tersebut mendapatkan beberapa komentar dari para ahli dan dipuji sebagai tindakan yang berani.

Menurut Asia One, pada 20 Oktober 2020, dalam artikel berjudul “Indonesia tolak permintaan AS untuk menampung pesawat mata-mata.”

Meski Indonesia memiliki pendekatan strategis terhadap AS dalam mengekang ambisi Tiongkok,

Dino Patti Djalal, mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat, mengatakan bahwa “kebijakan anti-Tiongkok yang sangat agresif dari AS telah membuat Indonesia dan kawasan tersebut gelisah.”

“Hal itu dianggap tidak pada tempatnya,” katanya kepada Reuters.

“Kami tidak ingin tertipu oleh kampanye anti-Tiongkok. Tentu saja kami mempertahankan kemerdekaan kami, tetapi ada keterlibatan ekonomi yang lebih dalam dan Tiongkok sekarang menjadi negara yang paling berdampak di dunia bagi Indonesia.” jelasnya.

Greg Poling, analis Asia Tenggara dari Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berpusat di Washington DC, mengatakan upaya mendapatkan hak pendaratan bagi pesawat mata-mata merupakan contoh dari tindakan yang ceroboh dan melampaui batas.

“Ini merupakan indikasi betapa sedikitnya pemahaman orang-orang di pemerintahan AS tentang Indonesia,” katanya kepada Reuters.

“Ada batasan yang jelas tentang apa yang dapat Anda lakukan, dan jika menyangkut Indonesia, batasan itu adalah mengerahkan pasukan di darat,” sambungnya.

Laporan: iwanpose

Amerika Serikat as indonesia Laut China Selatan Non Blok Pesawat Mata mata Senjata Militer TintaOtentik.Co Tiongkok
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticlePemkot Tangsel Perkirakan Lelang Jabatan Jatuh Bulan September 2025
Next Article Menlu Rusia Klaim Konflik Global Dipicu Agresi Eropa
Irfan Kurniawan

Related Posts

Tak Hujan Deras Sungai Meluap, Warga Gang Pinan Tangsel Desak Pengerukan Dan U-Ditch

15 April 2026

Dorong Pemanfaatan Listrik Tenaga Surya, Indonesia Targetkan Tak Impor BBM 2 Tahun Kedepan

15 April 2026

KAI Siap Adopsi Solar Campur Sawit 50%, Dorong Kereta Api Rendah Emisi

14 April 2026

Warga Serpong Terrace Datangi DPRD, Julham Firdaus Soroti Drainase dan Tata Kelola Lingkungan

14 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Regional

Tak Hujan Deras Sungai Meluap, Warga Gang Pinan Tangsel Desak Pengerukan Dan U-Ditch

By tintaotentik.co15 April 20260

TintaOtentik.Co – Warga RT 02 RW 10, Gang Pinan, Cimanggis Barat, Ciputat, kembali dikepung banjir…

 

Dorong Pemanfaatan Listrik Tenaga Surya, Indonesia Targetkan Tak Impor BBM 2 Tahun Kedepan

15 April 2026

KAI Siap Adopsi Solar Campur Sawit 50%, Dorong Kereta Api Rendah Emisi

14 April 2026

Warga Serpong Terrace Datangi DPRD, Julham Firdaus Soroti Drainase dan Tata Kelola Lingkungan

14 April 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.