TintaOtentik.co – Pasar modal Indonesia mendadak diguncang gelombang tekanan berat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan masif hingga 11,57 persen ke level 5.185,10 pada perdagangan Jumat (16/10/2026), bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Anjloknya pasar ini dipicu oleh kekhawatiran investor menyusul pengumuman konsultasi MSCI terkait potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Di tengah kepanikan pasar tersebut, pengusaha jalan tol kenamaan Mohammad Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun mengambil langkah berani.
Bersama rekan-rekan pengusaha yang tergabung dalam sebuah konsorsium, ia menyatakan kesiapannya memborong saham senilai Rp 5 triliun pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Manuver ini tidak hanya ditujukan untuk meraup keuntungan dari kejatuhan harga, melainkan sebagai bentuk aksi nyata pembelaan pengusaha domestik terhadap pasar modal nasional.
“Oh, saya pasti. Dengan teman-teman saya, saya sudah membentuk konsorsium. Ada beberapa teman. Pasti hari Senin saya akan belanja. Kelompok kita, Rp 5 triliun, akan belanja di pasar pada hari Senin,” ujar Jusuf Hamka dalam rekaman video yang diunggah di akun Instagram, dikutip Minggu (18/10/2026).
Bagi Jusuf Hamka, koreksi tajam yang melanda bursa efek justru menjadi momentum emas bagi investor berorientasi jangka panjang untuk masuk ke pasar.
Ia menilai bahwa penurunan drastis harga saham saat ini membuka peluang lebar sebelum pasar berbalik arah.
“Menurut saya, ini adalah kesempatan untuk membeli. It’s time to buy. Karena turunnya sudah demikian tajam dan biasanya kalau sesuatu sudah turun tajam akan berbalik arah lagi untuk naik dengan tajam,” kata dia.
Dalam strategi investasinya, pemegang saham utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) ini memfokuskan bidikannya pada sektor perbankan pelat merah berkapitalisasi besar (blue chip)yang memiliki fundamental kokoh serta konsisten membagikan dividen.
Sejumlah emiten yang masuk dalam radar konsorsiumnya meliputi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
“Karena saya lihat banyak saham-saham blue chip yang memberikan dividen cukup baik. Kita lihat ada Bank Mandiri, BRI, BBNI, dan BCA,” ujarnya.
Ia mencontohkan saham BMRI yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 6.000–7.000, lalu merosot ke level Rp 3.300–3.400.
Dengan asumsi dividen sekitar Rp 450 per saham dan harga beli di angka Rp 3.500, potensi imbal hasil dividen (dividend yield) dapat menyentuh kisaran 12 persen, jauh melampaui imbal hasil deposito konvensional.
“Ini lebih bagus daripada deposito. Dan, Bank Mandiri banknya pemerintah. Enak makan, enak tidur kita,” tutur dia, seraya menambahkan bahwa strategi ini juga memberikan potensi keuntungan ganda (capital gain) apabila harga saham kembali pulih ke depan.
Panggilan Nasionalisme untuk Pengusaha Domestik
Lebih dari sekadar kalkulasi bisnis korporasi, Jusuf Hamka menegaskan bahwa aksi borong saham senilai Rp 5 triliun ini merupakan wujud tanggung jawab moral dan nasionalisme.
Ia mengajak para pelaku usaha nasional yang selama ini mencari penghidupan di Indonesia untuk turut bergandengan tangan dengan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.
“Selain keyakinan secara bisnis, kita sebagai warga negara yang baik harus tahu di mana kita harus berperan serta membela negeri yang sedang menghadapi berbagai macam masalah,” tegasnya.
Ia pun melayangkan seruan terbuka kepada puluhan ribu pengusaha berkemampuan finansial di tanah air agar tidak tinggal diam melihat pasar domestik tertekan.
“Oleh sebab itu, saya mengimbau teman-teman pengusaha, yuk, sama-sama bergandengan tangan dengan pemerintah. Kalau kelompok saya saja bisa Rp 5 triliun mau belanja, kalian ada puluhan ribu pengusaha kita yang mampu,” ajak dia.
Jusuf optimis bahwa badai tekanan pasar ini dapat dilalui dengan baik asalkan seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah hingga pelaku usaha, tetap solid bersatu mempertahankan perekonomian nasional dari penguasaan modal asing.
“Ayo, besok Senin (19/10/2026) kita belanja. Kita hadapi semua. Ini barang murah. Dan kalau bukan kita yang rebut, nanti diambil lagi sama asing,” pungkasnya.
