TintaOtentik.co – Ketahanan ekonomi nasional kembali menunjukkan daya tarik yang kuat di mata investor global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, secara resmi memaparkan catatan gemilang realisasi penanaman modal asing (PMA) yang sukses menyentuh angka Rp270,2 triliun sepanjang kuartal III-2026.
Capaian fantastis tersebut mendominasi sebesar 51,1 persen dari total keseluruhan realisasi investasi nasional pada periode Juli–September 2026 yang membukukan angka Rp528,7 triliun.
Bila dikomparasikan secara year-on-year, kinerja investasi pada kuartal ini meroket tajam hingga 27,45 persen jika dibandingkan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya yang ‘hanya’ bertengger di level Rp212 triliun.
“Tadi saya baru saja melaporkan ke Bapak Presiden Prabowo Subianto mengenai capaian realisasi investasi di triwulan III-2026. Capaian realisasi investasi triwulan III-2026 itu mencapai Rp528,7 triliun,” ujar Rosan dalam sesi konferensi pers, dikutip Selasa (20/10/2026).
Peta Kekuatan Investor Global
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, porsi aliran modal asing pada kuartal III-2026 ini sangat bergantung pada kontribusi lima raksasa ekonomi dunia yang menyumbang hingga 84,7 persen dari total keseluruhan PMA.
Hong Kong keluar sebagai penyumbang terbesar dengan nilai mencapai US5,2 miliar atau menguasai porsi 31,8 persen. Posisi tersebut diikuti ketat oleh Singapura di tempat kedua dengan nilai US5,1 miliar (31,4 persen).
Sementara itu, kontribusi signifikan lainnya disumbangkan oleh Amerika Serikat sebesar US1,7 miliar (10,1 persen), China senilai US1,1 miliar (6,5 persen), serta Korea Selatan yang menanamkan modal sebesar US$0,8 miliar (4,9 persen).
Jika ditarik dalam rentang waktu yang lebih luas sepanjang Januari hingga September 2026, total akumulasi investasi nasional telah menembus angka Rp1.539,2 triliun.
Dari jumlah tersebut, separuh lebih atau sekitar 50,5 persen (Rp777,8 triliun) disumbangkan oleh pilar penanaman modal asing.
Dalam kalkulasi akumulatif sembilan bulan pertama tahun ini, Singapura masih memimpin daftar negara investor terbesar dengan nilai US14 miliar (29,6 persen), disusul Hong Kong dengan US12,8 miliar (27,2 persen), China sebesar US5 miliar (10,5 persen), Amerika Serikat senilai US3,4 miliar (7,1 persen), serta Jepang di angka US$2,6 miliar (5,6 persen).
Menariknya, Rosan menyoroti adanya pergeseran peta kekuatan modal asing di tanah air. Kekuatan gabungan investasi dari wilayah Tiongkok Raya kini menunjukkan dominasi baru yang melampaui kepemilikan modal tradisional di kawasan Asia Tenggara.
“Kalau Hong Kong dan Tiongkok digabung sudah lebih besar dari Singapura. Kalau digabung ini menjadi US17,8 miliar berbanding Singapura yang hanya US14 miliar,” ujar dia.
