Artikel Ini Ditulis Oleh Bungas T Fernando Duling Eks Aktivis 98 sekaligus pemerhati Geopolitik
​Jiwa pembebasan dan semangat anti-penindasan adalah adrenalin kita sebagai generasi penggerak, sang jiwa muda api revolusi.
Hilangnya rasa takut melahirkan pemikiran progresif yang ditempa melalui literasi sejarah serta implementasi nyata dalam pendampingan dan pembasisan.
​Dalam sejarahnya, tinta dan kertas adalah senjata utama. Propaganda bukan sekadar kata-kata, melainkan catatan penting yang mendorong perubahan, baik secara evolusi maupun revolusi.
​Distorsi Peran Agitasi dan Propaganda
​Ada kebanggaan tersendiri saat kita berdiri sebagai tim perumus maupun tim teknis “Agitasi dan Propaganda” (Agiprop) dalam organisasi revolusioner.
Namun, seiring berjalannya waktu, propaganda telah bermutasi menjadi mesin “pembunuh” tanpa moral di jagat media sosial.
​Esensi propaganda kini telah dibajak. Ia tak lagi menyuarakan kebenaran atau memicu kesadaran, melainkan sekadar instrumen untuk memburu viewers demi konversi cuan.
Kehancuran Nilai oleh Sistem Senyap
​Kebanggaan tim Agiprop kini luluh lantak oleh sistem senyap yang berhasil mengubah media sosial menjadi alat publikasi “proxy”.
Nilai-nilai perjuangan ditukar dengan recehan digital, di mana keberhasilan hanya diukur dari angka penayangan, bukan perubahan kesadaran massa.
Melawan Tirani Algoritma
​Kita sedang menyaksikan pelacuran intelektual yang paling vulgar. Ketika dialektika diringkas menjadi clickbait dan penderitaan rakyat dieksploitasi demi engagement, di situlah propaganda mati sebagai alat pembebasan.
Kita tidak lagi sedang menyusun barisan massa, melainkan sedang mengemis pada algoritma yang dirancang oleh tangan-tangan kapitalis/oligarki/kartel yang kita kutuk.
​Propaganda yang kehilangan moralitasnya bukan lagi “api”, melainkan “asap” yang menyesakkan kosong, tanpa substansi, dan hanya menghitamkan layar ponsel tanpa menyulut tindakan di jalanan. Jika hari ini Agiprop hanya tunduk pada berhala bernama viewers, maka sejatinya kita bukan lagi pejuang; kita hanyalah budak digital yang merasa sedang memberontak di dalam sangkar emas yang kita bangun sendiri.
​Hancurkan mesin itu, atau ia akan terus menggiling idealisme kita hingga menjadi ampas komoditas yang tidak berharga.
Propaganda adalah senjata, bukan barang dagangan! [***]
