TintaOtentik.Co – Kasus keracunan massal berupa gejala muntah dan diare yang menyerang ratusan warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, berbuntut panjang.
Pihak kewilayahan turun tangan mendesak pengembang dan pengelola Water Treatment Plant (WTP) untuk segera bertanggung jawab atas buruknya kualitas air bersih di kawasan tersebut.
Camat Setu, Bunga Pranatalia Putri, S.STP., mengungkapkan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah taktis untuk merespons keresahan warga. Namun, ia menyayangkan sikap manajemen pengembang BSA Land yang dinilai sulit diajak berkomunikasi.
“Dari kewilayahan tentu yang pertama kami akan komunikasi dulu dengan pengembang, BSA Land, dan juga pengelola WTP. Informasi dari warga, agak susah komunikasi dengan pengembang karena ketika mau ditemui direksinya selalu beralasan di luar negeri,” ujar Bunga.
Menurutnya, pengembang harus bertanggung jawab penuh atas fasilitas yang telah dijanjikan kepada para pembeli rumah, termasuk pengelolaan instalasi pengolahan air (WTP) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang saat ini terabaikan.
“Maka, kami akan coba bangun komunikasi kepada mereka-mereka sebagai bentuk tanggung jawab, sebagai bentuk tanggung jawab daripada apa yang sudah mereka janjikan kepada warga. Kan jualannya mereka, mereka beli rumah dapat WTP, ya kan. Air sudah, ternyata kondisi WTP-nya seperti itu. IPAL-nya enggak diurus dan sebagainya. Jadi buat saya yang penting komunikasi kepada pengembang dan pengelola,” tegasnya.
Hasil Uji Laboratorium: Positif Jauh di Atas Ambang Batas E. Coli
Terkait pemicu gangguan pencernaan massal tersebut, Bunga membeberkan hasil uji laboratorium dari sampel air yang diambil langsung dari titik-titik keran rumah warga, mulai dari dapur hingga halaman, yang tersambung ke jaringan WTP Serpong Lagoon.
Hasilnya, dari sembilan sampel yang diuji, delapan di antaranya dinyatakan tercemar bakteri E. coli secara masif.
“Dari sembilan sampel baku mutu kualitas air, hanya satu yang memenuhi syarat Zero E. coli gitu ya, nol E. coli. Itu karena air yang digunakan tidak menggunakan dari sumber dari WTP. Tapi delapan air yang berasal dari WTP, semuanya di atas, jauh di atas ambang batas e. coli, ” ungkap Bunga.
Ia menduga, fenomena lonjakan kasus yang mendadak parah ini dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi sumber air baku yang bersumber dari danau di tengah musim kering.
“Karena sumber airnya mereka itu memang danau yang tidak sehat. Kecuali mereka mengambil dari mana-mana. Kan jadi pertanyaan ya, kenapa permasalahan itu muncul sekarang? Karena kondisi kering. Jadi mungkin air bersihnya sudah turun, ampas-ampas yang di bawahnya nih yang ketarik, yang masuk ke rumah warga. Jadi memang harus revitalisasi WTP sebagai langkah konkrit yang harus dilakukan oleh pengelola WTP-nya Serpong Lagoon,” jelasnya.
Langkah Jangka Pendek: Distribusi Air Bersih dan Bantuan CSR
Sebagai penanganan darurat bagi warga terdampak, pihak kecamatan memfokuskan distribusi air bersih sembari menunggu perbaikan infrastruktur WTP yang memakan waktu. Pemerintah kecamatan juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta menyiapkan penampungan sementara.
“Sementara kalau itu hanya penanganan jangka pendek. Karena kan untuk mereka merevitalisasi WTP-nya pasti perlu waktu⦠Untuk langkah tindak lanjut jangka pendek, saya akan coba push pengembang untuk membantu distribusi air bersih. Namun, sampai dengan itu berproses, kami tunggu kesepakatan warga mau teknisnya seperti apa, kami akan komunikasi juga dengan BPBD,” kata Bunga.
“Karena kebetulan kondisinya ada di Kelurahan Keranggan, Keranggan sedang dapat bantuan air bersih dari BPBD. Sekalian kalau bisa diperbanyak, kita perbanyak. Nanti, dari BPBD, langkahnya seperti apa, nanti kita cek dulu kondisi di wilayah, karena belum ada toren, belum ada penampungan sementara daripada distribusi air bersih yang mau kita usahakan,” tambahnya.
Selain pasokan dari BPBD, pihak kewilayahan juga tengah memproses bantuan fasilitas penampungan air bersih melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta menimbang masukan warga agar distribusi air dapat langsung dialirkan melalui jaringan WTP yang ada.
Laporan: wan
