TintaOtentik.Co – Anggota DPRD Kota Tangsel Fraksi Golkar Badrusalam, menyatakan Tangsel di umur 17 Tahun masih banyak Pekerjaan Rumah (PR), salah satunya permasalahan ketegasan Pemerintah Kota terhadap pengembang perihal aset yang hingga saat ini belum clear.
Demikian dikatakan Badrus, pasca menghadiri Rapat Paripurna HUT Kota Tangsel ke 17 Tahun, di Gedung DPRD Tangsel, Rabu, (26/11/2025).
Badrus mengatakan alhamdulillah Tangsel sudah memasuki 17 tahun, artinya upaya ikhtiar masyarakat tangsel dulu ingin lepas dari Kabupaten Tangerang dalam rangka untuk lebih memaksimalkan pelayanan publik supaya tidak jauh ke Tigaraksa sudah terlaksana.
“Memang dimana-dimana yang namanya mempertahankan itu lebih berat, tapi Tangsel itu banyak kelebihannya sebenarnya,” ujar Badrus.
Badrus bercerita, ada 11 Kabupaten/Kota yang dimekarkan berbarengan dengan kota Tangerang Selatan, dari 11 Kabupaten/kota, Tangsel lah yang paling sukses Tangsel dan cepat berkembang.
“Dengan kelebihan sekaligus kekurangannya Kota Tangsel di usia 17 ini, hal yang menjadi perhatian utama masih terkait pembangunan, dan menurut saya hal tersebut lebih kepada persoalan infrastruktur dan turunannya,” kata Badrus.
Badrus menyebutkan turunan infrastruktur itu misalnya tentang penataan jalan, perekayasaan penanggulangan macet dan banjir serta pelayanan publik, misalnya pelayanan utama yaitu di bidang pendidikan dan kesehatan, dan pelayanan-pelayanan lain, seperti pelayanan yang berhubungan dengan administrasi kependudukan di dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, kemudian tentang lingkungan, seperti pelayanan yang menyakut persampahan dan sebagainya.
“Jadi, yang perlu di perhatikan adalah pelayanan publik, sebagaimana yang sudah menjadi janji-janji politik Wali Kota. Perlu ditekankan sebenarnya, bagaimana perencanaan-perencanaan yang sudah di rencanakan itu di laksanakan dengan baik,” ungkap Badrus.
Lebih lanjut Badrus menyampaikan terkait koordinasi dengan para pihak yaitu antar pemangku kepentingan baik itu antar instansi Pemerintah dengan pemerintah yang ada di Tangsel, misalnya Universitas dengan Pemerintah di tangsel, kemudian institusi pusat seperti BRIN yang punya persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat sekitar. Lainnya juga terkait kolaborasi dengan swasta yang ada di tangsel, baik di bidang pendidikan, bidang pengembang perumahan dan lainnya.
“Saya berharap ada peningkatan komunikasi antara pemerintah kota dengan pengembang. Karna pengembang lebih dulu hadir daripada kota Tangsel itu sendiri, bangun pola komunikasi dengan wilayah sekitar utamanya dengan pemerintah Kabupaten Tangerang sebagai wilayah induk dan Kota Tangerang, dalam rangka sinergitas dan kolaborasi secara menyeluruh dalam merencanakan rencana pembangunan dari hulu ke hilir, karna Tangsel tidak bisa berdiri sendiri, Tangsel mesti terkoordinasi,” harap Badrus.
“Masukan saya adalah bagaimana di usia 17 tahun ini Tangsel sudah lebih maju lagi pada konteks perencanaan dan implementasi dari perencanaan pembangunan sendiri,” jelas Badrus.
Bicara soal pengembang, masih banyak pengembang yang belum melaksanakan serah terima prihal aset kepada Pemkot Tangsel. Diharapkan Pemkot lebih tegas dengan hal tersebut. Tegas Badrus.
“Persoalan utama di pengembang itu adalah urusan aset yang sampe saat ini persoalan aset tersebut menurut saya belom clear. Jadi dalam pandangan saya upaya Pemkot Tangsel belom maksimal, sudah dilakukan sih tapi belom maksimal,” papar Badrusalam.
Politisi Gokar tersebut menambahkan, sebetulnya bicara tentang pengembang, hal yang perlu ditekankan terkait siteplan awal yang harus terakses informasinya. Paling tidak ada 3 pengembang besar di wilayah Tangsel yang menjadi perhatian utama dan beberapa pengembang menengah dan kecil lainnya.
Sebutkan saja ada Bintaro, Alam Sutera, BSD, kemudian pengembang-pengembang kecil yang lebih awal sebenarnya dari pada pengembang BSD dan Bintaro serta Alam Sutera, yang itu ada di wilayah misalnya Ciputat dan Pamulang.
“Sebab memang dulu perencanaannya terintegrasi dengan perencanaan dari wilayah lain seperti DKI Jakarta. Intinya kedepannya untuk Tangsel harus membangun komunikasi lebih intens lagi dengan wilayah sekitar terkait perencanaan pembangunan. Wilayah yang di dalamnya banyak pembangunan yang dilaksanakan oleh pengembang, kalo sudah bicara itu maka di dalam itu pasti berbicara aset,” pungkas Badrusalam.
Laporan: iwanpose
