Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
logo-tintaotentik
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • NASIONAL

    APBD-P Tangsel Ngebagi DCKTR Rp30 M, DLH Rp25 M dan Dikbud Rp15 M: Masyarakat Berhak Tahu Kemana Uang Larinya!

    26 August 2026 No Comments

    Resmikan PLTS, Indonesia Targetkan Stop Impor Minyak dan LPG Menuju Swasembada Energi

    26 August 2026 No Comments

    BPS Tegaskan Desil Hanya Pemeringkat, Bukan Tolak Ukur Kesejahteraan

    26 August 2026 No Comments

    Jakarta Aman Bukan Berarti Membungkam Aspirasi

    26 August 2026 No Comments

    Imbas APBD Turun, Banten Genjot Sektor Air dan Aset Demi Target RPJMD

    25 August 2026 No Comments
  • SEMUA
    • Artis Dan Entertainment
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Hukum
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Politik
    • Regional
    • Sosial Budaya
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • SEMUA
    • ARTIS DAN ENTERTAINMENT
    • EKONOMI
    • HIBURAN
    • HUKUM
    • NASIONAL
    • OLAHRAGA
    • REGIONAL
    • POLITIK
    • OPINI
    • SOSIAL BUDAYA
  • KONTAK KAMI
  • REDAKSI
  • Artis Dan Entertainment
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Interior
  • Internasional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
Home»Opini»Jakarta Aman Bukan Berarti Membungkam Aspirasi

Jakarta Aman Bukan Berarti Membungkam Aspirasi

0
By tintaotentik.co on 26 August 2026 Opini

Artikel Ini Ditulis Oleh Sopian Hadi Permana

Narasi “Jakarta aman, nyaman dan kondusif” tentu merupakan harapan kita semua. Tetapi jangan sampai narasi tentang keamanan justru digunakan untuk membangun kesan seolah-olah demonstrasi, kritik, dan penyampaian aspirasi masyarakat adalah sumber kekacauan Jakarta.

Kalau memang ingin Jakarta aman dan damai, pertanyaannya sederhana: kenapa tidak akar persoalannya yang dibenahi? Kalau mau Jakarta aman dan damai, kalian yang punya kewenangan harus benar-benar mengurus negara ini dengan baik. Jangan ugal-ugalan dalam membuat kebijakan, jangan mengabaikan suara rakyat, dan jangan alergi terhadap kritik.

Demonstrasi tidak muncul dari ruang kosong. Ada aspirasi, ada keresahan, ada kebijakan yang dipersoalkan, ada ketidakadilan yang dirasakan, dan ada suara masyarakat yang merasa tidak didengar.

Kalau tidak mau demonstrasi di Jakarta berujung chaos, dengarkan aspirasinya. Terima kritiknya. Evaluasi kebijakannya. Tindak lanjuti tuntutannya. Dan perbaiki apa yang memang harus diperbaiki.
Jangan hanya meminta masyarakat untuk tenang, sementara pemerintah dan para pemegang kekuasaan justru tidak pernah mau mendengar.

Dan satu hal yang juga harus menjadi perhatian: aksi demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara. Karena itu, pengamanan seharusnya dilakukan untuk memastikan aksi berlangsung aman, bukan dengan pendekatan yang represif. Jangan sampai tindakan yang berlebihan justru memperbesar ketegangan di lapangan.

Jika ada pihak yang menyusup, memprovokasi, atau melakukan tindakan anarkis, tentu harus ditindak berdasarkan hukum dan bukti yang jelas. Jangan pula seluruh massa aksi digeneralisasi sebagai pembuat kerusuhan hanya karena ulah segelintir orang. Jakarta akan benar-benar aman bukan ketika kritik berhenti terdengar.

Jakarta akan aman ketika pemerintah mampu mendengar rakyatnya, menghormati hak menyampaikan pendapat, merespons kritik dengan kebijakan yang benar, dan memastikan aparat bertindak profesional serta tidak represif.

Jadi, jangan balik-balik narasinya. Bukan demonstrasinya yang harus selalu disalahkan. Bukan kritiknya yang harus dibungkam. Bukan rakyatnya yang terus diminta mengerti. Yang punya kekuasaan juga harus mau mengerti.

Kalau ingin Jakarta aman, damai dan kondusif, maka ciptakan kebijakan yang adil, dengarkan aspirasi rakyat, jangan ugal-ugalan dalam mengurus negara, dan jangan menghadapi kritik dengan kekerasan.

KARENA DEMOKRASI BUKAN TENTANG SEPI DARI PROTES, TETAPI TENTANG KEKUASAAN YANG MAU MENDENGARKAN RAKYAT.

[***]

Aspirasi Demokrasi Jakarta Aman Mendengarkan Rakyat
Share. Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleImbas APBD Turun, Banten Genjot Sektor Air dan Aset Demi Target RPJMD
Next Article BPS Tegaskan Desil Hanya Pemeringkat, Bukan Tolak Ukur Kesejahteraan
tintaotentik.co
  • Website

Related Posts

Mengembalikan Berdikari: Presiden Prabowo Jalankan Pasal 33 Ala Bung Karno

24 August 2026

Refleksi Kemerdekaan RI Ke-81: Pemuda Tangsel Bukan Pelengkap Seremoni, Pemerintah Harus Berpihak!

15 August 2026

Kementan Perjuangkan Hilirisasi Komoditas Perkebunan, Lahan 870 Ribu Hektare Disiapkan

21 March 2026

Runtuhnya Moral Propaganda: Dari Api Revolusi Menjadi Perburuan Cuan

8 March 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Social Media
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Baca Juga
Politik

APBD-P Tangsel Ngebagi DCKTR Rp30 M, DLH Rp25 M dan Dikbud Rp15 M: Masyarakat Berhak Tahu Kemana Uang Larinya!

By tintaotentik.co26 August 20260

TintaOtentik.Co – Rencana penambahan anggaran sebesar Rp102,7 miliar lebih dalam Perubahan KUA/PPAS APBD 2026 Pemerintah…

 

Resmikan PLTS, Indonesia Targetkan Stop Impor Minyak dan LPG Menuju Swasembada Energi

26 August 2026

BPS Tegaskan Desil Hanya Pemeringkat, Bukan Tolak Ukur Kesejahteraan

26 August 2026

Jakarta Aman Bukan Berarti Membungkam Aspirasi

26 August 2026
logo-tintaotentik
Facebook-f X-twitter Instagram Youtube
  • HOME
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KONTAK KAMI

Copyright @ 2024 Tintaotentik. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.