TintaOtentik.co – Kepala BGN, Sudaryono, membongkar sejumlah temuan mencengangkan dalam pengelolaan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mulai dari ratusan rekening virtual fiktif berisikan ratusan miliar rupiah hingga praktik percaloan berkedok yayasan yang mengeruk keuntungan tanpa modal.
Fakta mengejutkan tersebut diungkapkan Sudaryono dalam agenda refleksi 100 hari masa kepemimpinannya di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Setibanya menakhodai lembaga tersebut, ia mendapati kejanggalan administratif berupa ratusan rekening virtual (virtual account/VA) ganda milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Ironisnya, ratusan rekening tersebut sudah terisi kucuran dana jumbo meski fasilitas dapur fisik penyedia makanan belum sama sekali beroperasi.
“Setelah kami masuk, kami temukan ada sekitar 400-an sekian rekening, rekening VA (virtual account) itu double. Setelah dicek, ternyata ada isinya Rp414 miliar setelah ditotal,” ungkap Sudaryono.
Menindaklanjuti temuan tersebut, BGN langsung bergerak cepat melakukan penyisiran menyeluruh dan mengamankan keuangan negara dengan menarik kembali seluruh dana jumbo tersebut ke kas negara.
“Dapurnya belum beroperasi, rekeningnya sudah diisi. Nah, itu kemudian kami sisir, kami kembalikan ke kas negara Rp414 miliar,” tegasnya.
Selain membongkar masalah rekening ganda, Sudaryono melayangkan kritik keras terhadap praktik lancung yang melibatkan oknum internal di masa lalu.
Ia mendapati modus operandi di mana sejumlah yayasan sengaja dibentuk hanya sebagai perantara atau “calo” tanpa memiliki kapasitas finansial maupun kesiapan operasional untuk membangun dapur SPPG.
Menurutnya, skema ideal sebuah yayasan seharusnya dimiliki langsung oleh investor atau mitra yang secara nyata mendirikan dan menjalankan operasional dapur.
Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, oknum-oknum memanfaatkan celah untuk menguasai titik-titik layanan demi mengeruk rente ekonomi.
“Idealnya yayasan itu dikepalai, dimiliki oleh si investor atau mitra ini. Yang terjadi adalah banyak oknum di BGN Pusat yang lampau, itu kemudian dia bikin banyak yayasan, ngisi titik-titik, tapi tidak punya uang,” beber Sudaryono.
Modus percaloan ini dinilai sangat merusak integritas program karena yayasan-yayasan fiktif tersebut tega memotong anggaran operasional harian berkisar antara Rp500 hingga Rp1.500 per porsi makanan yang disalurkan.
Sudaryono mencontohkan, jika akumulasi pemotongan tersebut dikalkulasikan pada ratusan dapur dengan kapasitas ribuan porsi per hari, aliran dana ilegal yang dikantongi para “calo” bisa mencapai miliaran rupiah per hari tanpa risiko modal sedikit pun.
“Berarti Rp2 juta, satu hari, satu dapur, kali 500. Rp2 juta kali 500, Rp1 miliar pendapatan dia, enggak keringet, enggak modal, enggak ngawal-ngawal, cuma malak-malak saja,” sindirnya.
Praktik pungutan liar terselubung ini dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas gizi makanan yang seharusnya diterima secara utuh oleh para anak-anak dan penerima manfaat.
Oleh karena itu, BGN memastikan tidak akan memberi ruang toleransi bagi pihak manapun yang mencoba mencederai misi besar Presiden.
“Maka di era kita sekarang, itu kita bersihkan semua. Kita tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kita bersihkan semua,” pungkas Sudaryono.
