TintaOtentik.Co – Sorotan tajam tertuju pada kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang Selatan seiring berakhirnya masa jabatan Bambang Noertjahjo pada April 2026.
Pengamat Publik sekaligus Budayawan Tangsel, Uten Sutendy, menegaskan bahwa langkah Walikota tersebut sangat perlu dikoreksi.
Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan masa jabatan bukan sekadar urusan administratif, melainkan kunci bagi kesehatan birokrasi.
“Ini sangat perlu dikoreksi. Secara aturan kan sudah habis masa jabatannya, seharusnya Walikota mengikuti aturan itu agar terjadi regenerasi. Dengan begitu, ekosistem di birokrat bisa berjalan fungsional dan efektif,” ujar Uten Sutendy saat memberikan tanggapannya.
Meski mengakui kualitas pribadi Bambang Noertjahjo sebagai manajer yang baik, Uten menilai peran Sekda di Tangsel selama ini masih jauh dari ideal.
Ia menekankan bahwa seorang Sekda seharusnya menjadi penyokong kuat kebijakan pemerintah, baik secara internal maupun politis, demi kepentingan masyarakat.
“Seorang Sekda itu bukan hanya sekadar jaga gawang dan administratif saja. Fungsi Sekda itu menjadi back-up yang kuat terkait kebijakan Pemkot. Sekda tidak boleh pasif, harus aktif memberikan pandangan serta mengisi kekosongan ide dan gagasan yang mungkin tidak dimiliki oleh Walikota,” tegasnya.
Uten melihat ada kesan eksklusivitas yang menutup ruang komunikasi antara jabatan Sekda dengan publik.
“Saya melihat Sekda ini terkesan eksklusif dan agak tertutup dengan publik. Tidak banyak keluar untuk memberikan penjelasan dan mem-back-up kebijakan-kebijakan Walikota,” tambahnya.
Dibalik Kepemimpinan Sekda Tangsel: Netralitas dan Stagnasi
Lebih lanjut, Uten menyoroti aspek netralitas birokrasi. Ia mengingatkan bahwa jabatan Sekda harus diisi oleh birokrat profesional yang murni dari kepentingan politik di balik layar.
Kurangnya dinamika pada jabatan ini dinilai berdampak pada kondisi Tangsel yang dianggap “jalan di tempat” dari berbagai perspektif, mulai dari infrastruktur hingga inovasi kreativitas.
“Pak Benyamin seorang birokrat, Pak Pilar masih muda dan butuh banyak pengalaman. Harusnya di sini tugas Sekda mengisi kekosongan itu. Tangsel memerlukan Sekda yang dinamis dan open-minded, jangan malah jadi kaku,” kata Uten.
Laporan: Sulis
