TintaOtentik.Co – Pendapatan PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai Rp90,4 triliun pada 2025, naik dari Rp81,6 triliun pada tahun sebelumnya.
Kenaikan pendapatan tersebut terjadi di tengah penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025.
Direktur Operasi Pupuk Indonesia Dwi Satriyo Annurogo mengatakan penurunan harga pupuk bersubsidi menjadi salah satu dampak transformasi dan efisiensi yang dilakukan perusahaan.
“Dampak transformasi dan efisiensi tersebut tidak berhenti pada kinerja korporasi, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat langsung kepada petani, dimana sejak Oktober 2025, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi turun 20 persen,” ujar Dwi dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
“Ke depan, transformasi akan terus kami lanjutkan untuk membangun Pupuk Indonesia yang lebih efisien, agile, dan kompetitif,” lanjut dia.
Kinerja pendapatan tersebut menempatkan Pupuk Indonesia di peringkat ke-14 Fortune Indonesia 100 2026 berdasarkan pendapatan 2025.
Pupuk Indonesia juga menjadi BUMN dengan pendapatan terbesar ke-8 dalam daftar tersebut. Di tingkat regional, posisi Pupuk Indonesia dalam Fortune Southeast Asia 500 2026 naik dari peringkat ke-69 menjadi ke-68.
Pupuk Indonesia menyebut peningkatan posisi tersebut mencerminkan penguatan fundamental perusahaan melalui transformasi serta koordinasi dengan pemerintah dan Danantara Indonesia.
Penyaluran pupuk bersubsidi naik
Di sisi lain, penyaluran pupuk bersubsidi Pupuk Indonesia pada 2025 mencapai 8,1 juta ton.
Jumlah tersebut naik 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan tata kelola melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025 turut menyederhanakan mekanisme distribusi pupuk bersubsidi.
Selanjutnya, Perpres Nomor 113 Tahun 2025 mengubah skema subsidi pupuk dari cost-plus menjadi marked-to-market serta mengatur pembayaran bahan baku di muka.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga ketersediaan pupuk. Pupuk Indonesia juga menyiapkan peremajaan dan pembangunan delapan pabrik dalam lima tahun ke depan.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi energi, kapasitas produksi, dan keandalan operasional. Salah satu langkah efisiensi dilakukan melalui revamping Pabrik Ammonia-2 Pupuk Kaltim.
Setelah revamping, konsumsi gas pabrik tersebut disebut turun lebih dari 10 persen sehingga meningkatkan efisiensi produksi.
Diversifikasi ke industri kimia
Pupuk Indonesia juga mulai memperluas bisnis di luar pupuk dengan masuk ke industri kimia dan specialty chemicals.
Perusahaan mengembangkan pabrik soda ash dan merencanakan pembangunan pabrik methanol. Diversifikasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat industri nasional.
Saat ini, Pupuk Indonesia menjadi salah satu produsen urea terbesar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Total kapasitas produksi pupuk perusahaan mencapai 14,8 juta ton per tahun.
Laporan: Tim
