TintaOtentik.co – PT Danantara Investment Management (DIM) mencatatkan portofolio keuangan dengan skala raksasa.
Berdasarkan laporan keuangan interim auditan per April 2026, total aset yang dikelola perusahaan investasi pelat merah ini sukses menyentuh angka fantastis Rp140,02 triliun, di mana porsi mayoritasnya terkonsentrasi pada instrumen kas dan setara kas.
Dalam dokumen laporan keuangan yang dirilis, DIM membukukan posisi kas dan setara kas yang sangat masif mencapai Rp123 triliun, atau mendominasi sekitar 88 persen dari keseluruhan total aset perusahaan.
Struktur permodalan kas dan setara kas tersebut ternyata sebagian besar ditempatkan secara aman pada instrumen deposito berjangka dengan nilai akumulasi mencapai Rp119 triliun.
Sebaran penempatan dana jumbo ini mendominasi bank-bank milik negara (Himbara) serta perbankan syariah nasional.
Berdasarkan rincian portofolio, DIM mempercayakan penempatan deposito berjangka di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan nilai terbesar yakni Rp55,56 triliun.
Disusul oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang masing-masing mengantongi porsi Rp18 triliun.
Selain itu, instrumen penempatan juga dialirkan ke PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebesar Rp17,1 triliun, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) senilai Rp6 triliun.
Tidak hanya dalam mata uang rupiah, perusahaan turut mengamankan cadangan kas dalam bentuk denominasi dolar Amerika Serikat (valas) senilai Rp5 triliun.
Di luar instrumen likuiditas kas dan deposito, total portofolio investasi yang digenggam oleh DIM tercatat berada di kisaran Rp16,63 triliun. Dana penanaman modal tersebut dipecah ke dalam instrumen surat berharga serta penyertaan pada sejumlah entitas subholding.
Menilik laporan arus kas periode Januari hingga April 2026, DIM mengalokasikan sebagian likuiditasnya untuk memborong instrumen obligasi senilai Rp12,30 triliun, yang dicatat berdasarkan nilai wajar (fair value), serta suntikan modal pada subholding sebesar Rp4,81 triliun yang perhitungannya disesuaikan melalui mekanisme laba rugi.
Adapun porsi investasi subholding tersebut disalurkan secara strategis ke beberapa entitas kunci, di antaranya:
- Danantara Investment Holding (HK) IV Limited sebesar Rp2,13 triliun, yang fokus menggarap ekspansi lintas sektor dengan portofolio pembiayaan kredit mencapai USD147,76 juta. Danantara NB Multi Strategy Ltd sebesar Rp1,17 triliun, yang diarahkan untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai instrumen fund global.
- PT Danantara Mitra Kapital sebesar Rp1,31 triliun, yang memegang mandat khusus untuk melakukan aksi korporasi berupa akuisisi aset-aset real estate strategis di Amerika Serikat (AS).
Dari sisi performa operasional laba rugi, DIM membukukan total pendapatan sebesar Rp1,09 triliun pada periode tersebut.
Angka pendapatan ini tercatat sepenuhnya bersumber dari hasil perolehan pendapatan bunga dari penempatan aset likuid dan instrumen keuangan.
Setelah dikurangi dengan alokasi beban operasional sebesar Rp330,55 miliar serta beban keuangan yang tercatat Rp1 triliun, perusahaan tetap mampu membukukan laba bersih yang solid senilai Rp705,73 miliar.
Selain topangan dari sektor bunga perbankan, kinerja keuangan DIM turut diperkuat oleh perolehan keuntungan atas selisih kurs senilai Rp306,02 miliar.
Perusahaan juga mengantongi tambahan amortisasi atas keuntungan yang ditangguhkan seiring dengan penerbitan instrumen Patriot Bonds dengan nilai mencapai Rp644,23 Miliar
